Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juli 2017

Metode Bertasbih/Berdzikir Ala Rasulullah SAW

Oleh: Anindra Yuanana
senantiasa mengingat Allah SWT adalah hal yg wajib dilakukan setiap muslim, salah satunya dengan berdzikir. Lantas bagaimana cara berdzikir yg dianjurkan oleh Rasulullah SAW?
Teknis dzikir yang dilakukan oleh Nabi SAW adalah menghitung jari dan bukan dengan bantuan alat, seperti kerikil atau tasbih. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, beliau menceritakan :
"saya melihat Rasulullah shallallahu'alaihi wassalam menghitung dzikir beliau dengan tangannya".(HR Ahmad)
Menurut Ibn Alan afa 2 cara dalam berdzikir dengan jari yakni:
Al-Aqd bil mafashil (menghitung dengan ruas jari), bentuknya adalah meletakkan ujung jempol para setiap ruas, setiap kali membaca dzikir.
sedangkan Al-Aqd bil ashabi (menghitung dengan jari), bentuknya adalah jari di genggamkan kemudian dibuka satu persatu.
Luar biasanya, jumlah ruas jari di tangan sudah sesuai jumlah kelipatan dzikir yang senantiasa dibaca yakni 33, subhanallah ! (lihat ilustrasi gambar)
lebih lanjut lagi.
Ada juga hadist yang menjelaskan keutamaan berdzikir dengan menghitung jari karena setiap ruas jari kita akan dipertanyakan amalannya pada saat hisab nanti, yakni:
"wahai para wanita mukminah kalian harus rajin bertasbih, bertahlil, mensucikan nama Allah janganlah kalian lalai sehingga melupakan rahmat. Hitunglah dengan jari-jari kalian, karena semua jari itu akan ditanya dan diminta untuk bicara" (HR.Ahmad, Abu Daud,at-Turmudzi)
Sumber tulisan: https://plus.google.com/101453907715896345770/posts/6CNgva2ViG1 

Do'a Iftitah, Jenis dan Hukum Membacanya

Oleh : Kaulah Segalanya

Doa lftitah adalah bacaan doa pada awal shalat setelah takbiratul ihram atau sebelum membaca Al Fatihah. Hukum membacanya adalah sunnah,baik shalat fardhu maupun shalat sunnah.
Ada beberapa jenis doa lftitah, diantaranya adalah:
1.Doa lftitah menurut NU
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. إِنِّىْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ.
Artinya :
Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku diperintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).

2.Doa lftitah Muhammadiyah
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ
Artinya :
“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin”


Sebagaimana disebutkan diatas, bahwa bacaan doa iftitah itu banyak macamnya. Yang penting, semua versi itu bersumber dari petunjuk nabi Muhammad SAW. Sebab doa iftitah itu bagian dari rangkaian ibadah shalat, sedangkan shalat itu harus merujuk kepada yang dicontohkan oleh beliau SAW.

Diantara dalilnya yaitu hadist dari Abu Hurairah
"Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam setelah bertakbir ketika shalat, ia diam sejenak sebelum membaca ayat. Maka aku pun bertanya kepada beliau, wahai Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku, aku melihatmu berdiam antara takbir dan bacaan ayat. Apa yang engkau baca ketika itu adalah:… (beliau menyebutkan doa istiftah)” (Muttafaqun ‘alaih)
Setelah menyebut beberapa doa istiftah dalam kitab Al Adzkar, Imam An Nawawi berkata: 
“Ketahuilah bahwa semua doa-doa ini hukumnya mustahabbah (sunnah) dalam shalat wajib maupun shalat sunnah” (Al Adzkar, 1/107)

Intinya, apapun bacaannya, yang terpenting adalah ada sumbernya dan pernah dilakukan oleh Nabi. Kalau aku sendiri selalu membaca doa iftitah dengan lafadz yang kedua karena yang diajarkan ustadz sejak aku kecil.


Senin, 03 Juli 2017

Bijak Menyikapi SosMed / Sosial Media

Contoh paling dominan adalah facebook dan twitter. Kedua jenis media sosial tersebut paling banyak disukai serta mudah diakses masyarakat dalam segala usia dan latar belakang yang berbeda. Hal ini juga yang membuat Indonesia menjadi salah.
Hari gini gak kenal Sosial Media? Emang lu kemana aja? Begitulah ejekan yang teman kalian ucapkan dan mungkin kalian pernah di ejek atau di tertawai di halayak ramai gara-gara kalian bertanya tentang Media Sosial itu apa? Demikianlah muda-mudi kita hari ini.
Ngomongin masalah Dunia Maya memang tak ada habisnya. Disamping dari pelayanan dan penyajiannya yang terbilang baik, membuat para penggunanya bisa lupa waktu. Selain itu, internet kemudahan mengakses layanan berstatus tidak layak dipertontonkan. Na’udzubillah.
Yaaa, Media sosial memang menjadi racun bagi siapa pun, terutama bagi generasi muda kita. Begitu mudahnya akses internet saat ini, turut memudahkan orang-orang yang tak bertanggung jawab untuk menyebarkan “penyakit”nya. Hanya dengan sekali sentuh, orang-orang dapat melihat gambar, tontonan, bacaan yang tidak mendidik. Yang menjadi korban tentu saja para pengguna media sosial, khususnya anak-anak.
Selain itu, maraknya kejahatan juga dapat bermula dari media sosial. Kita sering mendengar ada remaja diculik oleh orang yang baru dikenalnya lewat media sosial dan kebanyakan korbannya adalah para wanita muda yang masih labil dengan dunia maya. Media sosial juga dapat menjadi sasaran empuk para pebisnis yang tidak bertanggung jawab. Maraknya penipuan dalam jual beli sudah sangat sering terjadi, bahkan sudah menjadi hal lumrah dimasyarakat maya.
Meskipun dunia maya terdapat sisi positifnya, alangkah baiknya kewaspadaan harus tetap dijaga pada saat kita menggunakan media sosial dengan bijak dan tepat sesuai porsinya. Jangan sampai berlebih-lebihan dalam menggunakannya, karena Allah SWT tidak menyukai sesuatu yang berlebih-lebihan. Apalagi sampai melupakan kewajiban-kewajiban kita sebagai hamba Allah. Gunakanlah media sosial sewajarnya dan tepat penggunaannya.
Allah SWT berfirman yang artinya sebagai berikut:

“Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. al-A’raaf [7]: 31).

Pemuda Hebat Itu, yang Siap Memimpin dan Dipimpin

Tak ubahnya seperti dengan bercocok tanam. Seorang petani akan memanen tanamanya manakala yang ditanam itu berbuah, dan menyesalnya manakala yang ditanamnya tidak bisa memberinya apa-apa. Begitupun dengan masa kanak-kanak.
Masa kanak-kanak adalah masa penanaman. Keberhasilan proses dari penanaman karakter itu akan terasa apabila ia telah tumbuh dewasa, yaitu mampu menangkap hal baik dan siap melaksanakannya.
Dalam konsep agama, Islam hanya mengenal dua tenggang waktu pada manusia, yakni masa anak-anak dan dewasa. Kedua masa ini dipisahkan dengan aqil-baligh, yang ciri-cirinya bisa diketahui dengan pendekatan ilmu fikih. Pada masa awal baligh inilah, istilah remaja menjadi populer.
Masa anak-anak adalah masa penanaman. Keberhasilan proses penanaman pada anak akan ditandai dengan kondisi mumayyiz, yaitu mampu menangkap hal baik dan siap melaksanakannya. Amalan anak mumayyiz dinyatakan sah menurut fikih dan pahalanya Allah berikan kepada pendidiknya.
Bila penanaman pada masa anak berhasil, maka anak akan tumbuh sebagai remaja dewasa yang melaksanakan pengabdian dengan total dan kehati-hatian. Bila tidak berhasil, tugas penanaman harus terus dilanjutkan, walau usia anak telah mencapai remaja bahkan dewasa. Karena pohon dengan akar yang buruk akan menghasilkan buah yang buruk, bahkan mengancam eksistensi pohon itu sendiri.
Banyak orang tua rela mengeluarkan banyak uang untuk pendidikan anaknya agar tumbuh menjadi anak yang berkualitas dan berkarakter baik. Di sekolahnya mereka diajarkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan organisasi. Ketiga ilmu ini penting, karena sejatinya manusia diciptakan untuk menjadi khalifah Allah yang memakmurkan bumi-Nya.
Memimpin tidak sama halnya dengan supir angkot, yang mengantarkan penumpangnya menuju satu tujuan, setelah itu ia meninggalkannya. Juga tidak sama seperti bos yang selalu menyuruh-nyuruh bawahannya. Pemimpin harus seperti layaknya imam salat. Ia tidak hanya memberikan segesti kepada makmumnya, tetapi harus melakukan perbuatan (amal) dengan sempurna terlebih dahulu, sebelum perbuatan itu dilakukan oleh makmumnya.
Hanya ada satu hal yang dapat membuat seseorang menjadi pemimpin sejati, yaitu sikap siap memimpin dan siap dipimpin, dan Sikap ini telah diaplikasikan oleh manusia pilihan, yang menjadi suri tauladan yang bagi setiap manusia. Dialah Baginda Rasulullah saw, pemimpin terbaik yang telah sukses mengemban risalah berat dari Allah. Beliau berhasil mempersatukan bangsa Arab dalam ketauhidan di bawah naungan Islam dengan bermodal satu sikap, siap memimpin dan dipimpin, hingga Arab pun tampil menjadi penguasa peradaban.
Namun, modal siap memimpin dan dipimpin tidaklah mudah. Terkenal dalam sejarah, ada satu makhluk dari golongan jin yang telah melakukan pengabdian kepada Allah sejak ribuan tahun sebelum Adam diciptakan. Tapi, tiba-tiba membangkang oleh karena satu hal saja, hanya ingin memimpin namun tidak siap dipimpin.
Dialah Iblis yang dengan penuh kesombongan menolak perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam. Satu yang membuat dirinya enggan untuk memenuhi perintah Allah tersebut, “iblis tidak siap dipimpin”, karena merasa dirinya lebih mulia dari pada Nabi Adam. Sikap Iblis pun ditegur dan disalahkan Allah. Hingga Iblis dikutuk dan diharamkan ia kembali ketempat dimana dahulu ia pernah hidup disana.
Jerakah iblis ketika dia mendapatkan hukuman tersebut? Tidak! Justeru perbuatannya semakin menjadi-jadi. Bahkan ia meminta izin kepada Allah supaya usianya ditangguhkan, karena ia bertekad mengganggu dan menggoda manusia. Sejak saat itu, Iblis mendedikasikan diri dan waktunya dalam kedurhakaan dan menyesatkan.
Telah nyata permusuhan Iblis kepada manusia. Seumur hidupnya umat manusia tidak akan pernah aman dari gangguannya. Maka, siapkanlah berbagai macam daya upaya untuk menghalaunya, agar kita bisa menapaki jalan kembali ke kampung halaman kita yaitu surga-Nya. Aamiin yaa Allah yaa Rabbal ‘aalamiin. 


Minggu, 02 Juli 2017

Perhatian Sepenuh Hati adalah Kekayaan Tak Ternilai Harganya

Saudaraku sekalian, mari berharap semoga kita semua termasuk orang-orang yang dianugrahi kebahagiaan dan keluarga yang harmonis dalam hidup ini. Jika kita berprofesi sebagai orang yang sangat sibuk dengan pekerjaan, sudahkah kita membagi waktu untuk keluarga? Untuk istri/suami? Untuk anak-anak? Dan untuk bekal menuju akhirat kelak? 
Saudaraku dimanapun kalian berada. Istri/suami dan anak-anak kita adalah orang yang mengharapkan kehadiran kita disisinya. Mereka menginginkan perhatian, kasih sayang, belaian serta pelukan kasih sayang dari kita. Mereka bukan hanya  membutuhkan harta benda yang kita miliki. Hati mereka tidak terbuat dari sebongkah batu yang tidak memiliki perasaan rindu, sedih, dan bahagia. Hati mereka terbuat dari segumpal darah. Mereka sama seperti manusia lainnya, yang sama-sama memiliki keinginan untuk disayangi, dicintai, diperhatikan, dirindui, dibelai, dipeluk dan dicium. Kita harus adil, beraktifitas untuk kepentingan di dunia dan juga untuk kepentingan di akhirat.
Saudaraku, diceritakan dalam sebuah riwayat bahwa ada seorang wanita yang mengadu kepada Nabi Muhammad saw tentang perilaku suaminya yang tidak meluangkan waktu untuk istrinya. Ia mengatakan bahwa di siang hari suaminya menjalani puasa dan malamnya dihabiskan untuk bermunajat kepada Allah SWT. Lalu, Rasulullah saw memanggil suami perempuan itu dan menanyakan kebenaran berita yang diterimanya. Laki-laki itu menjawab, “Benar, ya Rasulullah.” Kemudian Nabi saw berkata, ”Kembalilah kepada istrimu, karena ia memliki hak atas dirimu.”
Riwayat diatas telah memberikan isyarat kepada kita bahwa tak seharusnya hidup di dunia ini dihabiskan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Kita harus memformat waktu kita untuk dunia dan akhirat. Karena pada hakikatnya semua itu adalah ibadah juga.  Allah SWT telah menyebutkan dalam al-Quran bahwa:
“Tidaklah Allah SWT menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah SWT.” (QS. adz-Dzariyaat [51]: 56)
Banyak kegiatan yang sepintas sepertinya hanya kegiatan duniawi, tetapi jika diniatkan ibadah, tentu akan berpahala. Oleh karena itu, isilah setiap waktu kita untuk beribadah dengan tidak melupakan kahidupan di dunia. Ketika seorang suami bekerja mencari rezeki, niatkanlah sebagai ibadah. Yaitu untuk memberi nafkah kepada keluarga seperti yang telah diperintahkan agama. Ketika seorang ibu memasak, niatkanlah ibadah, yaitu berbakti dan berbuat baik kepada suami dan keluarga seperti yang telah diajarkan Islam.
Tidak sedikit keluarga yang secara duniawi tak kekurangan namun mengabaikan pendidikan, bimbingan dan perhatian kepada keluarga sehingga anaknya merasa dikucilkan. Walaupun ada di rumah, tapi jarang bertemu dengan orangtuanya, sehingga mereka mencari kehidupan di luar yang jauh dari nilai-nilai kebaikan. 
Yakinlah anak-anak kita bukan hanya membutuhkan bekal duniawi saja, namun ada yang paling penting yaitu belaian kasih sayang orang tuanya. Bisa jadi duniawi masih kekurangan, akan tetapi perhatian dan cinta kasih sayang tercurahkan untuk mereka, maka akan tercipta sebuah hubungan penuh harmoni dan kasih sayang. Anak-anak kemudian akan termotivasi untuk bisa belajar lebih sungguh-sungguh dan memiliki kekayaan tak ternilai dari orangtuanya.
Perhatian penuh cinta bisa diapresiasikan dengan berbagai macam cara. Contohnya mengajak anak-anak berkunjung ke kakek dan neneknya sebagai usaha kita agar mereka mencintai orangtuanya. Menyadarkan anak-anak bahwa dibalik segala keberhasilan, ada orang-orang yang berdiri di belakang kita. Sebagai manusia yang berbakti, maka harus jadi orang yang pandai berterima kasih. Ingatlah mendidik anak-anak yang paling baik adalah dengan sikap dan perilaku kita, dengan sendirinya mereka akan meniru apa yang kita lakukan.
Kemudian bisa juga mengajak mereka berlibur ke tempat yang menakjubkan supaya mereka bisa mengambil ibarat tentang keindahan ciptaan Allah SWT. Ini akan membuat anak-anak merasa hidupnya tidak sendiri, tapi ada alam yang senantiasa mendampinginya. Dalam benaknya timbul keinginan untuk memelihara alam dengan baik, bukan malah merusaknya.
Kata kunci dari apa yang kita baca hari ini adalah format waktu dan perhatian kita untuk anak-anak yang kehidupannya masih alami dan penuh kelabilan, sehingga kefitrahan mereka kita isi dengan curahan cinta dan kasih sayang. Semoga Allah SWT menganugrahkan kepada kita anak-anak yang saleh, pecinta Allah SWT sebagai Tuhannya dan menyayangi orang tuanya sebagaimana kita menyayangi mereka. Aamiin.


Jangan Kikir, Berbagi Tidak Akan Membuatmu Miskin

Melirik perjalanan hidup Rasulullah saw yang dikenal sebagai pribadi paling dermawan dan murah hati. Kita tahu, bahwa Rasulullah di utus untuk mengubah moralitas bangsa Arab waktu itu yang tergolong masih seperti binatang. Selain itu, Sifat dermawan dan murah hati ini pun diharapkan dimiliki oleh umatnya. Apalagi Allah dalam surah al-Ma’un [107] menegaskan orang yang menghardik anak yatim, tidak menolong dan memberi makan orang miskin, serta enggan memberi bantuan kepada yang membutuhkan, ia termasuk pendusta agama.
Masih ingatkah kalian dengan salah cerita umatnya Nabi Musa yang kikirnya setengah mati? Yaaa, dia adalah Qorun yang sangat kaya raya namun sangat kikir. Dia mendapatkan azab Allah yang berupa ditenggelamkannya seluruh hartanya kedalah perut bumi, karena Dia tidak mau memenuhi keawjibannya yang berupa “tidak mau memperdulikan kamunitas masyarakat yang membutuhkan uluran tangannya, dan dia juga tidak mengindahkan bahwa apa yang dia milikinya waktu ada sebagian hak Allah yang seharusnya dikeluarkan, tapi malah dimakan sendiri. Hingga akhirnya azab itu tidak bisa dihindarkan oleh diri dan hartanya. Itulah gambaran sederhan yang perlu kita tadabburi, sehingga kita dijauhi dari sifat kikir yang akan menjerumuskan kita kedalam azab-Nya.
Marilah kita berjanji kepada diri kita untuk tidak akan kikir jika suatu saat nanti kita diberi kelapangan rezeki, kita berjanji untuk tidak akan pelit untuk berbagi dengan orang yang membutuhkan. Bahkan  menjadi semakin peduli terhadap orang-orang yang diuji kekurangan dari segi ekonomi. Dengan lahirnya sikap kepedulian, diharapkan kondisi perekonomian negara ini pun menjadi lebih baik. Semakin sedikit orang-orang yang hidupnya berada di bawah garis kemiskinan.
Jadi, jangan merasa takut hidup akan menjadi miskin karena menyalurkan zakat, infak, dan sedekah. Yakinlah bahwa dengan mengeluarkan harta di jalan Allah, rezeki kita semakin melimpah dan tentunya berkah.