Senin, 03 Juli 2017

Pemuda Hebat Itu, yang Siap Memimpin dan Dipimpin

Tak ubahnya seperti dengan bercocok tanam. Seorang petani akan memanen tanamanya manakala yang ditanam itu berbuah, dan menyesalnya manakala yang ditanamnya tidak bisa memberinya apa-apa. Begitupun dengan masa kanak-kanak.
Masa kanak-kanak adalah masa penanaman. Keberhasilan proses dari penanaman karakter itu akan terasa apabila ia telah tumbuh dewasa, yaitu mampu menangkap hal baik dan siap melaksanakannya.
Dalam konsep agama, Islam hanya mengenal dua tenggang waktu pada manusia, yakni masa anak-anak dan dewasa. Kedua masa ini dipisahkan dengan aqil-baligh, yang ciri-cirinya bisa diketahui dengan pendekatan ilmu fikih. Pada masa awal baligh inilah, istilah remaja menjadi populer.
Masa anak-anak adalah masa penanaman. Keberhasilan proses penanaman pada anak akan ditandai dengan kondisi mumayyiz, yaitu mampu menangkap hal baik dan siap melaksanakannya. Amalan anak mumayyiz dinyatakan sah menurut fikih dan pahalanya Allah berikan kepada pendidiknya.
Bila penanaman pada masa anak berhasil, maka anak akan tumbuh sebagai remaja dewasa yang melaksanakan pengabdian dengan total dan kehati-hatian. Bila tidak berhasil, tugas penanaman harus terus dilanjutkan, walau usia anak telah mencapai remaja bahkan dewasa. Karena pohon dengan akar yang buruk akan menghasilkan buah yang buruk, bahkan mengancam eksistensi pohon itu sendiri.
Banyak orang tua rela mengeluarkan banyak uang untuk pendidikan anaknya agar tumbuh menjadi anak yang berkualitas dan berkarakter baik. Di sekolahnya mereka diajarkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan organisasi. Ketiga ilmu ini penting, karena sejatinya manusia diciptakan untuk menjadi khalifah Allah yang memakmurkan bumi-Nya.
Memimpin tidak sama halnya dengan supir angkot, yang mengantarkan penumpangnya menuju satu tujuan, setelah itu ia meninggalkannya. Juga tidak sama seperti bos yang selalu menyuruh-nyuruh bawahannya. Pemimpin harus seperti layaknya imam salat. Ia tidak hanya memberikan segesti kepada makmumnya, tetapi harus melakukan perbuatan (amal) dengan sempurna terlebih dahulu, sebelum perbuatan itu dilakukan oleh makmumnya.
Hanya ada satu hal yang dapat membuat seseorang menjadi pemimpin sejati, yaitu sikap siap memimpin dan siap dipimpin, dan Sikap ini telah diaplikasikan oleh manusia pilihan, yang menjadi suri tauladan yang bagi setiap manusia. Dialah Baginda Rasulullah saw, pemimpin terbaik yang telah sukses mengemban risalah berat dari Allah. Beliau berhasil mempersatukan bangsa Arab dalam ketauhidan di bawah naungan Islam dengan bermodal satu sikap, siap memimpin dan dipimpin, hingga Arab pun tampil menjadi penguasa peradaban.
Namun, modal siap memimpin dan dipimpin tidaklah mudah. Terkenal dalam sejarah, ada satu makhluk dari golongan jin yang telah melakukan pengabdian kepada Allah sejak ribuan tahun sebelum Adam diciptakan. Tapi, tiba-tiba membangkang oleh karena satu hal saja, hanya ingin memimpin namun tidak siap dipimpin.
Dialah Iblis yang dengan penuh kesombongan menolak perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam. Satu yang membuat dirinya enggan untuk memenuhi perintah Allah tersebut, “iblis tidak siap dipimpin”, karena merasa dirinya lebih mulia dari pada Nabi Adam. Sikap Iblis pun ditegur dan disalahkan Allah. Hingga Iblis dikutuk dan diharamkan ia kembali ketempat dimana dahulu ia pernah hidup disana.
Jerakah iblis ketika dia mendapatkan hukuman tersebut? Tidak! Justeru perbuatannya semakin menjadi-jadi. Bahkan ia meminta izin kepada Allah supaya usianya ditangguhkan, karena ia bertekad mengganggu dan menggoda manusia. Sejak saat itu, Iblis mendedikasikan diri dan waktunya dalam kedurhakaan dan menyesatkan.
Telah nyata permusuhan Iblis kepada manusia. Seumur hidupnya umat manusia tidak akan pernah aman dari gangguannya. Maka, siapkanlah berbagai macam daya upaya untuk menghalaunya, agar kita bisa menapaki jalan kembali ke kampung halaman kita yaitu surga-Nya. Aamiin yaa Allah yaa Rabbal ‘aalamiin. 


Belum Bertemu Jodoh? Tetaplah Bersyukur dan Jangan Kufur Nikmat

Jadi, bersyukur ini tak terkecuali bagi saudara yang belum bertemu jodoh. Mungkin ada yang protes, “Aa’, bersyukur apanya?” Bersyukurlah karena memiliki waktu lebih banyak. Yaaa, begitulah pesan KH. Abdullah Gymnastiar dalam suatu kesempatannya.
Semoga saudaraku yang belum dipertemukan jodohnya tidak protes saat membaca tema artikel ini. Sungguh banyak sekali yang harus kita syukuri sejak kita dilahirkan ke dunia ini. Marilah kita lebih meningkatkan tafakur kita akan nikmat dari Allah yang tak pernah kita sadari bahwa nikmat itu sesaatpun tak pernah lepas dari diri kita, agar supaya tidak timbul rasa sombong dan merasa kurang.
“Dan apabila kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya.”(QS. Ibrâhîm [14]: 34)
Kembali pada tema awal, yaitu “bersyukurlah yang belum bertemu jodon”. Jadi, bersyukur ini tak terkecuali bagi saudara yang belum bertemu jodoh. Mungkin ada yang protes, “Aa’, bersyukur apanya?” Bersyukurlah karena masih diberi waktu lebih banyak fase to fase dengan Allah.
tidak hanya bagi yang masih membujang, yang belum dikaruniai anakpun juga jangan sampai tidak bersyukur. Karena saat memiliki anak belum tentu kebaikan kita bertambah. Belum tentu selangkah lebih dekat kepada Allah. Positive thinking dan jangan banyak mengeluh, Allah lebih mengetahui kalau kita tidak atau belum siap diberi amanah. Itu bukanlah masalah, jangan lantas menghakimi Allah dengan tindakan dan perbuatan yang tak seharusnya. Siti Aisyah tidak punya anak, dan tidak berkurang kemuliaannya.
bagi yang belum bertemu dengan jodohnya, tetaplah tenang. Jangan sedih atau mengeluh, dan jangan sampai mempunyai fikiran “Ah, saya ngga laku.” Ikuti dengan ikhtiyar dan doa, agar jodohnya yang jauh didekatkan, yang dekat dipertemukan, dan yang belum dikaruniai anak, cepat dikaruniai anak. Jangan sekali-kali curhat kepada orang lain, karena mereka tidak dapat memerikan jalan keluar kepada kalian. Jadi, daripada kita berbagi hati atau cinta dengan makhluk, jauh lebih baik cinta kita sepenuhnya diberikan kepada Pencipta-Nya.
Maka, beruntunglah bagi yang belum punya pasangan. Karena bisa lebih rajin dan asyik berduaan dengan Pencipta alam raya. Tenang dan tetap bersabar. yakinlah ketika cinta kepada Allah sudah bagus, tiba waktunya Allah mengaruniakan kita jodoh.
Tapi bagaimana kalau sampai ajal mejemput kita belum juga dipertmukan dengan jodoh kita? kalau pun itu sampai menimpa diri kita, maka terimalah dengan ridha dan tetap bersyukur. Karena semua ketentuan Allah yang menentukan, lagipula suka-suka Allah Yang Maha baik memberi jodoh atau tidak. Ingat! Hidup di dunia ini tidaklah lama. Yang penting selama hidup kita akrab dengan Allah, dan setelah meninggal tidak susah-susah amat.
Jangan sampai hanya karena di dunia ini kita belum atau tidak diberi pasangan, lalu sepanjang waktu dipakai untuk bermalas-malasan. Setiap hari kusut wajahnya gara-gara melihat yang sudah diberi, dan minder kalau ada yang bertanya “Kapan menikah?” Lama-lama kalian stress karena memikirkan jodoh yang tak kunjung datang itu, jadi suka menangis saat melihat orang lain bersama pasangan dan anaknya. Lalu berucap “Ya Allah, Engkau tidak adil.” Sudahlah jangan hakimi Allah dengan keinginan kalian. Padahal kalau Allah mau mengadili, dari kemarin kita sudah disambar petir. Jangan sampai didunia kita kufur nikmat dan diakhirat kita menjadi manusia terlaknat. Na’udzubillaahi mindzalik.
Ingatlah saudaraku. Hanya orang-orang yang kufur nikmatlah yang tidak bahagia. Terlepas apakah dia dikaruniai pasangan atau pun tidak. Kalau kita tenggelamkan hati dengan mengingat-ingat karunia Allah, maka hati ini menjadi lembut. Kita bisa terisak-isak menangis. Bukan tangis keluh-kesah atau kecewa, tetapi tangisan syukur dan bahagia. Karena tidak ada yang bisa kita kecewakan dari perbuatan Allah. Orang yang kecewa hanya orang yang kufur nikmat.

Minggu, 02 Juli 2017

Perhatian Sepenuh Hati adalah Kekayaan Tak Ternilai Harganya

Saudaraku sekalian, mari berharap semoga kita semua termasuk orang-orang yang dianugrahi kebahagiaan dan keluarga yang harmonis dalam hidup ini. Jika kita berprofesi sebagai orang yang sangat sibuk dengan pekerjaan, sudahkah kita membagi waktu untuk keluarga? Untuk istri/suami? Untuk anak-anak? Dan untuk bekal menuju akhirat kelak? 
Saudaraku dimanapun kalian berada. Istri/suami dan anak-anak kita adalah orang yang mengharapkan kehadiran kita disisinya. Mereka menginginkan perhatian, kasih sayang, belaian serta pelukan kasih sayang dari kita. Mereka bukan hanya  membutuhkan harta benda yang kita miliki. Hati mereka tidak terbuat dari sebongkah batu yang tidak memiliki perasaan rindu, sedih, dan bahagia. Hati mereka terbuat dari segumpal darah. Mereka sama seperti manusia lainnya, yang sama-sama memiliki keinginan untuk disayangi, dicintai, diperhatikan, dirindui, dibelai, dipeluk dan dicium. Kita harus adil, beraktifitas untuk kepentingan di dunia dan juga untuk kepentingan di akhirat.
Saudaraku, diceritakan dalam sebuah riwayat bahwa ada seorang wanita yang mengadu kepada Nabi Muhammad saw tentang perilaku suaminya yang tidak meluangkan waktu untuk istrinya. Ia mengatakan bahwa di siang hari suaminya menjalani puasa dan malamnya dihabiskan untuk bermunajat kepada Allah SWT. Lalu, Rasulullah saw memanggil suami perempuan itu dan menanyakan kebenaran berita yang diterimanya. Laki-laki itu menjawab, “Benar, ya Rasulullah.” Kemudian Nabi saw berkata, ”Kembalilah kepada istrimu, karena ia memliki hak atas dirimu.”
Riwayat diatas telah memberikan isyarat kepada kita bahwa tak seharusnya hidup di dunia ini dihabiskan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Kita harus memformat waktu kita untuk dunia dan akhirat. Karena pada hakikatnya semua itu adalah ibadah juga.  Allah SWT telah menyebutkan dalam al-Quran bahwa:
“Tidaklah Allah SWT menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah SWT.” (QS. adz-Dzariyaat [51]: 56)
Banyak kegiatan yang sepintas sepertinya hanya kegiatan duniawi, tetapi jika diniatkan ibadah, tentu akan berpahala. Oleh karena itu, isilah setiap waktu kita untuk beribadah dengan tidak melupakan kahidupan di dunia. Ketika seorang suami bekerja mencari rezeki, niatkanlah sebagai ibadah. Yaitu untuk memberi nafkah kepada keluarga seperti yang telah diperintahkan agama. Ketika seorang ibu memasak, niatkanlah ibadah, yaitu berbakti dan berbuat baik kepada suami dan keluarga seperti yang telah diajarkan Islam.
Tidak sedikit keluarga yang secara duniawi tak kekurangan namun mengabaikan pendidikan, bimbingan dan perhatian kepada keluarga sehingga anaknya merasa dikucilkan. Walaupun ada di rumah, tapi jarang bertemu dengan orangtuanya, sehingga mereka mencari kehidupan di luar yang jauh dari nilai-nilai kebaikan. 
Yakinlah anak-anak kita bukan hanya membutuhkan bekal duniawi saja, namun ada yang paling penting yaitu belaian kasih sayang orang tuanya. Bisa jadi duniawi masih kekurangan, akan tetapi perhatian dan cinta kasih sayang tercurahkan untuk mereka, maka akan tercipta sebuah hubungan penuh harmoni dan kasih sayang. Anak-anak kemudian akan termotivasi untuk bisa belajar lebih sungguh-sungguh dan memiliki kekayaan tak ternilai dari orangtuanya.
Perhatian penuh cinta bisa diapresiasikan dengan berbagai macam cara. Contohnya mengajak anak-anak berkunjung ke kakek dan neneknya sebagai usaha kita agar mereka mencintai orangtuanya. Menyadarkan anak-anak bahwa dibalik segala keberhasilan, ada orang-orang yang berdiri di belakang kita. Sebagai manusia yang berbakti, maka harus jadi orang yang pandai berterima kasih. Ingatlah mendidik anak-anak yang paling baik adalah dengan sikap dan perilaku kita, dengan sendirinya mereka akan meniru apa yang kita lakukan.
Kemudian bisa juga mengajak mereka berlibur ke tempat yang menakjubkan supaya mereka bisa mengambil ibarat tentang keindahan ciptaan Allah SWT. Ini akan membuat anak-anak merasa hidupnya tidak sendiri, tapi ada alam yang senantiasa mendampinginya. Dalam benaknya timbul keinginan untuk memelihara alam dengan baik, bukan malah merusaknya.
Kata kunci dari apa yang kita baca hari ini adalah format waktu dan perhatian kita untuk anak-anak yang kehidupannya masih alami dan penuh kelabilan, sehingga kefitrahan mereka kita isi dengan curahan cinta dan kasih sayang. Semoga Allah SWT menganugrahkan kepada kita anak-anak yang saleh, pecinta Allah SWT sebagai Tuhannya dan menyayangi orang tuanya sebagaimana kita menyayangi mereka. Aamiin.


Jangan Kikir, Berbagi Tidak Akan Membuatmu Miskin

Melirik perjalanan hidup Rasulullah saw yang dikenal sebagai pribadi paling dermawan dan murah hati. Kita tahu, bahwa Rasulullah di utus untuk mengubah moralitas bangsa Arab waktu itu yang tergolong masih seperti binatang. Selain itu, Sifat dermawan dan murah hati ini pun diharapkan dimiliki oleh umatnya. Apalagi Allah dalam surah al-Ma’un [107] menegaskan orang yang menghardik anak yatim, tidak menolong dan memberi makan orang miskin, serta enggan memberi bantuan kepada yang membutuhkan, ia termasuk pendusta agama.
Masih ingatkah kalian dengan salah cerita umatnya Nabi Musa yang kikirnya setengah mati? Yaaa, dia adalah Qorun yang sangat kaya raya namun sangat kikir. Dia mendapatkan azab Allah yang berupa ditenggelamkannya seluruh hartanya kedalah perut bumi, karena Dia tidak mau memenuhi keawjibannya yang berupa “tidak mau memperdulikan kamunitas masyarakat yang membutuhkan uluran tangannya, dan dia juga tidak mengindahkan bahwa apa yang dia milikinya waktu ada sebagian hak Allah yang seharusnya dikeluarkan, tapi malah dimakan sendiri. Hingga akhirnya azab itu tidak bisa dihindarkan oleh diri dan hartanya. Itulah gambaran sederhan yang perlu kita tadabburi, sehingga kita dijauhi dari sifat kikir yang akan menjerumuskan kita kedalam azab-Nya.
Marilah kita berjanji kepada diri kita untuk tidak akan kikir jika suatu saat nanti kita diberi kelapangan rezeki, kita berjanji untuk tidak akan pelit untuk berbagi dengan orang yang membutuhkan. Bahkan  menjadi semakin peduli terhadap orang-orang yang diuji kekurangan dari segi ekonomi. Dengan lahirnya sikap kepedulian, diharapkan kondisi perekonomian negara ini pun menjadi lebih baik. Semakin sedikit orang-orang yang hidupnya berada di bawah garis kemiskinan.
Jadi, jangan merasa takut hidup akan menjadi miskin karena menyalurkan zakat, infak, dan sedekah. Yakinlah bahwa dengan mengeluarkan harta di jalan Allah, rezeki kita semakin melimpah dan tentunya berkah.


Fatimah Az-Zahra Wanita Terbaik Yang Tak Pernah Datang Bulan

Siapakah yang tak mengenalnya? Selama mereka itu muslim, merka pasti pernah mendengar namanya. Dia adalah suri tauladan bagi semua umat manusia. Didalam sabdanya Nabi Muhammad SAW disebutkan bahwa salah dari empat wanita surga adalah Siti Fatimah yang diperistrikan oleh Sayidina ‘Ali ra.
Siti Fatimah binti Muhammad lahir pada 20 Jumadil Akhirah lima tahun sebelum Rasulullah SAW diangkat menjadi Rasul. Dia merupakan putri keempat Nabi Muhammad dan ibunya Khadijah binti Khuwalid. 
Kelahiran dirinya disambut dengan sangat gembira oleh ayahandanya, Rasulullah SAW karena dia lahir pada saat tahun ke lima sebelum diangkat menjadi Rasul. Setelah Fatimah beranjak menjadi seorang wanita dewasa, Dia mendapat julukan Az-Zahra karena dia tidak pernah haid, begitupun dengan masa nifasnya, Dia hanya sesaat saja mengeluarkan darah nifas dan setelah suci kembali.
Dalam kitab fataawa adz-Dzahiriyyah di kalangan Hanafiyyah disebutkan bahwa:
"Sesungguhnya Fatimah tidak pernah mengalami haid sama sekali, saat beliau melahirkan pun langsung suci dari nifasnya setelah sesaat agar tiada terlewatkan salat baginya, karenanya beliau diberi julukan Az-Zahra".
Aisyah berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa: 
"Ketika aku dalam perjalanan ke langit, aku dimasukkan ke surga, lalu berhenti di sebuah pohon dari pohon-pohon surga. Aku melihat yang lebih indah dari pohon yang satu itu, daunnya paling putih, buahnya paling harum. Kemudian, aku mendapatkan buahnya, lalu aku makan. Buah itu menjadi nuthfah di sulbi-ku. Setelah aku sampai di bumi, aku berhubungan dengan Khadijah, kemudian ia mengandung Fatimah. Setelah itu, setiap aku rindu aroma surga, aku menciumi Fatimah". (Tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang surat Al-Isra’: 1; Mustadrak Ash-Shahihnya 3: 156).
Di usia ke 5 tahun, Fatimah ditinggal wafat ibundanya Khadijah. Mau tidak mau secara langsung dia menggantikan tempat ibundanya untuk melayani, membantu dan membela ayahandanya. Dalam usia yang terbilang kanak-kanak, Fatimah kecil sering dihadapkan dengan berbagaimacam cobaan, salah satunya adalah menyaksikan perlakuan keji kaum kafir Quraish kepada ayahnya. Sering kali Siti Fatimah meneteskan air matanya, manakala melihat penderitaan yang menimpa Ayahnya.
Setelah Siti Fatimah beranjak dewasa meninggalkan masa kanak-kanaknya, tak sedikit dari sahabat-sahabat ayahnya yang hendak melamar dirinya, antara lain Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Namun, tak satupun dari pinangan sahabat-sahabatnya itu diterima oleh Rasulullah.
"Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fatimah)". 
Kemudian malaikat Jibril datang dengan membawa khabar kepada Rasulullah bahwa Allah telah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib. Tak lama akan kehadiran malaikat Jibril, Ali bin Abi Thalib datang menghadap Rasulullah untuk meminang Fatimah. Lalu dengan tangan terbuka Nabi Muhammad menerima Ali bin Abi Thalib sebagai menantunya.
Acara pernikahan putrinya berlangsung dengan kesederhanaan, karena pada saat itu Ali tidak memiliki sesuatu yang bisa dijadikan mahar. Ali meminang Fatimah dengan mas kawin sebesar 400 dihram yang sebelumnya Ali bin Abi Thalib menggadaikan baju besinya kepada Utsman bin Affan. Rasulullah menyimpan perasaan kasih sayang sangat mendalam terhadap Ali bin Abi Thalib. Beliau pernah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib.
"Fatimah lebih kucintai dari pada engkau, namun dalam pandanganku engkau lebih mulia dari pada dia". (HR Abu Hurairah).
Setelah acara walimahan Siti Fatimah dan Ali Bin Abi Thalib telah selesai, pada suatu hari datanglah seorang suku bani Salim yang terkenal akan praktek sihir dan melontarkan kata-kata makian kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, apa yang dilakukan oleh beliau? Apakah lantas membalas makiannya? Tidak! Nabi Muhammad menjawabnya dengan lemah lembut.
Ahli sihir tersebut terpesona hingga akhirnya diapun memeluk agama Islam. Nabi meminta kepada Salman untuk membawa ahli sihir tersebut ke tempat seseorang saudara seagama Islam yang dapat memberinya makan, dikarenakan ahli sihir tersebut dalam keadaan lapar.
Salman mengajaknya mengunjungi beberapa rumah. Namun tidak ada seorang pun yang dapat memberinya makan, karena pada saat itu memang bukanlah waktu orang makan.  Akhirnya ahli sihir tersebut diajak oleh Salman untuk mengunjungi rumah Fatimah. Usai Salman memberi tahu maksud kunjungannya, dengan air mata berlinang Fatimah mengatakan bahwa di rumahnya tidak ada makanan sejak tiga hari yang lalu. Namun, putri Nabi Muhammad tersebut enggan menolak seorang tamu "Saya tidak dapat menolak seorang tamu yang lapar tanpa memberinya makan sampai kenyang"
Kemudian Fatimah melepas kain kerudungnya dan memberikannya kepada Salman untuk menukarnya dengan jagung kepada Shamoon orang Yahudi. Salman dan ahli sihir tersebut sangat terharu melihat kemurahan hati Fatimah.
Salman membawa jagung permintaan Fatimah. Dengan tangannya sendiri, Fatimah menggiling jagung tersebut dan membakarnya menjadi roti.
Salman menyarankan agar Fatimah menyisihkan beberapa roti untuk anak-anaknya yang kelaparan. Hal tersebut dijawab oleh Fatimah, bahwa dirinya tidak berhak untuk berbuat demikian, karena dia telah memberikan kain kerudungya itu untuk kepentingan Allah.


Meneladani Wanita Terbaik, Siti Maryam Binti Imran

Siapa yang tak kenal sosok wanita yang satu ini. Wanita yang namanya harum tercium hingga saat ini dan masyhur namanya di kenang di seluruh penjuru dunia hingga saat ini. Dia adalah Siti Maryam Binti Imran yang namanya di abadikan didalam kitab sucinya umat islam. Allah Ta'ala berfirma:
“Dan Ingatlah ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” QS.Ali Imran: 42.
Maryam, putri dari Imran dan Hannah binti Faqqudz. Merupakan sosok teladan semua wanita muslimah yang kuat mempertahankan keimanan dalam hatinya kepada Allah SWT. Namanya pernah disebutkan oleh baginda nabi didalam sabdanya. Salah satu dari empat pemuka wanita dari Surga. Dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah, Khadijah binti Khuwalid, dan Asiyah.” (HR. Hakim 4853).
Maryam sangat menjaga kesucian dirinya dari sentuhan laki-laki yang menjamahnya. Meskipun Maryam memiliki naluri sebagaimana layaknya seorang wanita; yaitu memiliki ketertarikan dengan lawan jenis, namun ia tidak sembarangan berdekatan apalagi berdua-duaan dengan selain mahramnya. Siti Maryam adalah wanita shalihah yang selalu menjaga kesucian dirinya dari gangguan laki-laki manapun.
Suatu ketika Malaikat Jibril menghampiri siti Maryam dengan menjelma sebagai seorang laki-laki yang tampan rupawan. Langkah apa yang diambil oleh Maryam? Dia berdiam dibelakang tabir, sehingga Jibril tidak memandang dirinya. Sebagaimana Firman Allah SWT yang artinya:
“Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami (Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: 
“Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa” (QS. Maryam: 17-18).
Kedatangan Jibril tidak lantas membuat tergoyahkan untuk menjaga janjinya sebagai wanita yang suci. Ia tetap menjaga diri dan menengadah seraya memohon perlindungan kepada Allah SWT. Hingga akhirnya-pun Jibril berkata sesuai yang termaktub didalam surat Maryam ayat 19 yang artinya:
“Ia (jibril) berkata: Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. 
Setelah Jibril mengatakan maksudnya, mengapa ia menghampirinya? barulah Maryam paham bahwa laki-laki tersebut tidak akan mengganggunya. Ternyata ia adalah Malaikat utusan Allah untuk bertemu Maryam.
Kisah ini dapat menjadi teladan bagi para muslimah dimanapun mereka berada. Senantiasalah menjaga diri dan menghindari gangguan dari setiap laki-laki. Karena salah satu kemuliaan seorang wanita adalah rasa malu nya. Karena itu berusahalah sebaik mungkin dalam menjaga diri. Karena sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.


Pesan Untuk Kaum Wanita Idaman

Assalamu 'Alaikum Wr. Wb.

Pada postingan kali ini, Amanah-Web akan sedikit mengulas bagaiman menjadi wanita idaman semua orang. Karena sangat sedikit sekali ada wanita menawa, yang timbulnya dari lubuk hati yang paling dalam.
Baiklah....!!!
Pesan pertama
Untuk membentuk bibir yang menawan, maka ucapkanlah kata-kata yang baik.
Pesan kedua
Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai.
Pesan ketiga
Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, berbagilah makanan untuk mereka yang kelaparan. 
Pesan keempat
Untuk mendapatkan rambut yang indah, mintalah anak kecil untuk menyisirkannya dengan jemarinya setiap hari. 
Pesan kelima
Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan kalian tidak akan pernah berjalan sendirian. Penciptaan manusia melebihi dari makhluk yang lain, perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni.
Jadi, jangan pernah kucilkan seseorang dari hati kalian, apabila kalian sudah melakukan semua itu. Ingatlah selalu, jika suatu saat kalian pasti membutuhkan pertolongan. Maka, akan senantiasa ada tangan yang terulur menolong kalian. Dengan bertambahnya usia kalian, kalian akan semakin mensyukuri, karena telah diberi dua tangan, satu tangan untuk menolng diri kalian sendiri, dan satu tangan lagi, utnuk menolong orang lain. Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakannya, bukan pula pada bentuk tubuhnya, dan buka juga cara dia menyisi rambutnya. Tapi, kecantikan wanita terletak pada matanya, bagaimana cara dia memandang dunia. karena di matanyalah terletak gerbang menuju kesetiap hati manusia, diamana cinta dapat berkembang.

Pesan yang terakhir: 

Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajahnya, tetapi kecantikan yang murni, terpancar dari jiwanya yang selalu menjaga kesucian dirinya dari setiap lelaki yang memandangnya.