Rabu, 18 Oktober 2017

Dunia Islam dan Yahudi

Dunia Islam dan Yahudi

Keberadaan orang Yahudi di dunia Islam pada masa lalu umumnya lebih baik daripada di Eropa. Bukan berarti tidak ada diskriminasi atau kebencian terhadap mereka, tetapi sebagai ahl al-kitab mereka lazimnya dilindungi. Di Eropa mereka barulah memperoleh hak-hak bersamaan masa transisi dari masyarakat pertanian ke masyarakat perkotaan dan industri . Kebebasan yang mereka peroleh menimbulkan reaksi; sikap anti-Yahudi berkaitan erat dengan dengan sikap anti-kemodernan. Antisemitisme merupakan salah satu gejala protes terhadap perubahan.
Dalam Islam, tidaklah sulit mencari pembenaran religius untuk membenci Yahudi. Dan belakangan ini kami sering menjumpai pembenaran ini seolah-olah bagian esensial dari Islam. Terdapat sejumlah ayat Qur'an yang mengutuk orang Yahudi Madinah dan sekaligus bisa ditafsirkan sebagai anjuran untuk senantiasa mencurigai dan membenci kaum Yahudi . Tetapi sebenarnya ayat-ayat ini baru belakangan menjadi begitu populer. Asal-usul kebencian yang sesungguhnya, tentu, keberadaan negara Israel di tengah negara-negara Arab, dan kekuatan dahsyat tentara Israel. Ayat-ayat Qur'an tersebut memberikan legitimasi belakangan kepada kebencian yang disebabkan oleh kejadian politik. Tulisan Arab anti-Yahudi, agaknya, lebih diwarnai oleh pengaruh buku antisemit Barat seperti Protokol-Protokol ketimbang ayat-ayat Qur'an yang berkaitan dengan Yahudi. Sebagian besar buku mengenai "bahaya Yahudi" yang diterbitkan di dunia Arab merujuk kepada Protokol-Protokol dan tokoh-tokoh antisemit Barat; hanya beberapa saja yang bertolak dari analisa ayat-ayat Qur'an.

Palestina: nasionalisme atau Islam?
Kekalahan militer negara-negara Arab oleh Israel menimbulkan persepsi bahwa sosialisme dan nasionalisme telah gagal sebagai ideologi yang layak, dan mendukung munculnya "alternatif Islam" yang sejak dulu disponsori Arab Saudi. Lahirnya ideologi Islam politik akhir-akhir ini (terutama varian konservatifnya) berkaitan erat dengan faktor keberadaan Israel. Faktor lain yang berperan, tentu saja, minyak dan kenaikan harga minyak sejak 1973 (berkaitan langsung dengan perang Arab-Israel dan boikot minyak). Dengan kenaikan harga minyak, orang Arab secara berangsur kian diperhatikan Barat, dan perasaan harga diri orang Arab turut terangkat. Di sini kemudian wacana dominan tentang Israel mulai bergeser dan ditentukan oleh Arab Saudi daripada Mesir dan berubah dari wacana nasionalis (Israel lawan Arab) menjadi wacana agama (Yahudi lawan Islam).

"Protokol Zion" di Indonesia
Perbincangan bertema Yahudi, Zionisme dan Israel di kalangan Islam Indonesia cenderung dipengaruhi oleh buku Protokol-Protokol Para Sesepuh Zion dan tulisan antisemitis Barat lainnya. Setelah perjanjian perdamaian antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina ditandatangani (September 1993), majalah Panji Masyarakat dan Al-Muslimun memuat laporan khusus tentang Yahudi dan Zionisme yang tidak hanya berisi opini dan analisa situasi politik saja tetapi juga menguraikan lagi tentang konspirasi Yahudi berdasarkan Protokol-Protokol sebagai "bahan bukti" . Tidak mudah memastikan sejak kapan buku tersebut diketahui di Indonesia. Menurut laporan di Panjimas tadi, majalah ini pernah memuat artikel panjang mengenai "Ancaman Ular Simbolik Yahudi" (salah satu tema dari Protokol-Protokol) pada tahun pertama penerbitannya, yaitu 1959 . Dan itu pun mungkin bukan tulisan pertama tentang konspirasi rahasia Yahudi untuk menghancurkan Islam. Namun jika dicermati pada dasawarsa 1950-an dan 1960-an tulisan serupa ini belum banyak mendapat perhatian.
Adalah Prof.Dr. Ahmad Shalaby, guru besar dari Mesir yang pernah mengajar di PTAIN di Yogyakarta pada dasawarsa 1950-an, yang agaknya memiliki andil dalam memperkenalkan Protokol-Protokol di Indonesia. Bukunya Perbandingan Agama: Agama Yahudi, yang rampung ditulis di Mesir pada tahun 1965, membicarakan panjang lebar Protokol-Protokol. Setelah membahas kitab Taurat dan Talmud sebagai pustaka keagamaan Yahudi, Shalaby menyuguhkan ringkasan Protokol-Protokol Para Sesepuh Zion, seolah-olah ini pula teks keagamaan Yahudi. Tidak jelas apakah Shalaby pada saat ia mengajar di Indonesia juga telah membicarakan teks tersebut; tampaknya masalah Yahudi waktu itu belum banyak menarik perhatian orang. Terjemahan Melayu buku Shalaby diterbitkan pada tahun 1977 di Singapura, dan terjemahan Indonesia baru pada tahun 1990. Buku ini sering dijadikan rujukan oleh penulis Indonesia. Dipengaruhi langsung oleh Shalaby, penulis buku teks ilmu perbandingan agama dari Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga juga meyakini bahwa "Protokol Pendeta Zionis" merupakan kitab sakral Yahudi ketiga, setelah Perjanjian Lama dan Talmud .
Barulah pada dasawarsa 1980-an konspirasi Yahudi semakin sering dibicarakan di Indonesia. Pada tahun 1982, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Agama (LPPA) Muhammadiyah dan Rabithah Al-`Alam Al-Islami masing-masing menerbitkan buku mengenai Freemasonry sebagai organisasi rahasia Yahudi. Keduanya menyebut Protokol-Protokol sebagai barang bukti yang akurat tentang rencana-rencana rahasia Yahudi . Buku Rabithah menyebutkan adanya keraguan tentang kebenaran Protokol namun menegaskan pula bahwa ia benar-benar merupakan dokumen asli. "Siapa yang membaca dengan teliti teks-teks yang terkandung di dalamnya akan mengetahui bahwa semua rencana yang terdapat di dalamnya telah dilaksanakan di seluruh penjuru dunia" (hal. 156). Hanya, menurut para penulis, rencana Yahudi masa kini pastilah sudah berubah lagi, dan orang harus waspada terhadap kiat baru dari "para pengusaha kejahatan itu, para terompet setan itu, para juru tenu kebinasaan itu, dan para penjaga kuil itu." Pengamatan ini mirip suatu pengakuan bahwa Protokol-Protokol ternyata tidak relevan untuk memahami Zionisme modern. Tetapi teori konspirasi tetap dipertahankan, dan pada tahun-tahun berikut di Indonesia terbit sejumlah terjemahan atau adaptasi Protokol-Protokol:
a. (Versi ringkas dalam:) Dr. Darouza, Mengungkap tentang Yahudi: Watak, Jejak, Pijak dari Kasus-Kasus Lama Bani Israel. Surabaya: Pustaka Progressif, 1982. (terbitan asli: Damascus 1970).
b. (Dikomentari panjang lebar dalam:) Dr. Majid Kailany, Bahaya Zionisme terhadap Dunia Islam. Solo: Pustaka Mantiq, 1988. (terbitan asli: Jeddah, 1984).
c. Skenario Rahasia untuk Menguasai Dunia. Bandung: Hizbul Haq Press, tanpa tahun (1989?). (dengan kata pengantar yang tampaknya ditulis di Pakistan).
d. Ayat-Ayat Setan Yahudi. Dokumen Rahasia Yahudi Menaklukkan Dunia dan Menghancurkan Agama. Jakarta: PT Pustakakarya Grafikatama, 1990. (dengan kata pengantar oleh "Social Reform Society", Kuwait).
Dalam kata pengantar sejumlah edisi ini tidak ditemui isyarat bahwa teks ini hanya berupa sebuah pemalsuan kasar saja. Penulis kata pengantar dua yang terakhir malahan mengklaim - dengan mengabaikan kenyataan - bahwa buku ini sulit didapatkan dan di mana-mana dilarang (gara-gara konspirasi Yahudi, tentu saja). Agaknya, mereka lupa menyebutkan bahwa bukunya pernah dicetak dalam oplag ratusan ribu dan disebarkan ke mana-mana oleh rezim Nazi Jerman, dan di negara-negara Arab sendiri terjemahan Protokol-Protokol dengan mudah diperoleh di mana saja.

Daya tarik teori konspirasi
Teori-teori konspirasi mempunyai daya tarik kuat karena merupakan penjelasan yang mudah difahami dan sekaligus menunjukkan kambing hitam. Teori konspirasi meletakkan tanggungjawab atas segala hal yang tidak disenangi pada orang lain. Penganut teori ini tidak perlu mengungkapkan kekurangan, kelemahan dan kesalahannya sendiri, tidak pula mesti mengkritik diri sendiri karena semua hal dianggap kejahatan pihak lawan. Teori-teori semacam ini menutup kemungkinan orang mencermati sebab-sebab yang sebenarnya, sehingga tidak mudah atau malahan mustahil mengubah secara rasional keadaan yang tidak disenangi.
Teori konspirasi yang disebarkan oleh penyusun Protokol-Protokol menawarkan penjelasan semua peristiwa politik dan ekonomi yang telah terjadi selama satu abad: berkembangnya kapitalisme maupun gerakan-gerakan komunis, revolusi maupun kontrarevolusi, modernisasi dan rasionalisasi sistem ekonomi, gerakan pembebasan dan emansipasi, liberalisme dan sekularisasi. Ini semua dianggap buah dari rekayasa komplotan Zionis yang maha hebat. "Hampir setiap peristiwa besar di dunia berjalan mengikuti tuntutan The Elders of Zion ini. Peperangan, kemerosotan, revolusi, naiknya biaya hidup, dan keresahan berlarut-larut, wujud nyata mengangkangi dunia melalui pintu belakang" . Menurut pandangan demikian, orang lain tidak berdaya dan tidak mampu memberi sumbangan terhadap alur sejarah; hanya Yahudi sajalah yang menentukannya.
Teori konspirasi ini sangat berbeda dengan analisa yang mendalam tentang kekuatan dan strategi nyata Zionisme. Negara Israel, organisasi Zionis di luar Israel dan para simpatisan Zionisme melakukan berbagai hal, secara terbuka maupun terselubung, untuk mempengaruhi pendapat umum dan kebijaksanaan negara-negara lain. Lobi-lobi Yahudi di Amerika dan Eropa memang sangat canggih dan berhasil; tetapi kalau aktivitas-aktivitasnya ditelaah secara cermat gambaran yang diperoleh sangat berbeda dengan Protokol-Protokol .

Yahudi sebagai simbol perubahan yang mengancam
Umat Islam Indonesia, sebagai umat Islam negara-negara lain, menjunjung tinggi solidaritas dengan bangsa Palestina. Republik Indonesia tidak mengakui negara Israel, dan seluruh umat Islam Indonesia menganggap berdirinya Israel, apalagi pendudukan Gaza dan Tepi Barat dan pembangunan pemukiman Yahudi di sana, sebagai ketidakadilan yang tidak dapat dibenarkan.
Tetapi belakangan terdengar banyak ungkapan anti-Yahudi yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah Israel-Palestina. Yahudi dan kelicikan serta tipu dayanya dikritik, tetapi sasaran kritik ini sesungguhnya bukan orang Yahudi melainkan orang atau situasi di Indonesia sendiri. Rupa-rupa hal di Indonesia yang tidak disenangi (misalnya perkembangan pemikiran Islam liberal, atau konsep Hak Asasi Manusia) dikaitkan dengan konspirasi Yahudi.
Yahudi memang sejak dulu juga dikaitkan dengan golongan atau gerakan lain yang oleh pihak tertentu dianggap membahayakan status quo:
            Faham Syiah, menurut sebagian penulis Sunni, konon berasal dari seorang bekas Yahudi bernama Abdullah bin Saba', yang pura-pura masuk Islam. Ia konon orang pertama yang mengistimewakan Ali bin Abi Thalib dan memulai kultus terhadap Ali dan keturunannya. Alasannya, konon untuk menghancurkan Islam dari dalam. Cerita ini sebagai "penjelasan" lahirnya Syi'ah sudah sangat lama, tetapi oleh kalangan ahli sejarah kebanyakan ditolak. Di Indonesia sendir, hikayat Abdullah bin Saba' disebarkan lagi setelah revolusi Iran, oleh kalangan yang paling dekat ke Arab Saudi (yaitu tokoh-tokoh Dewan Dakwah) . Latar belakang politik isu ini tidak dapat diabaikan.v
 Freemasonry (Vrijmetselarij) memang suatu gerakan rahasia dan internasional, tetapi di tiap negara mempunyai corak tersendiri. Kasus yang pernah menghebohkan adalah skandal politik dan korupsi menyangkut sebuah cabang Freemasonry di Italia yang anggotanya terdiri dari pengusaha besar, politisi, jaksa dan hakim, militer dan mafia. Di negara lain tidak pernah ada skandal demikian. Anggota Freemasonry pada umumnya terdiri dari orang elit dan berpikiran bebas. Orang Yahudi tidak memainkan peranan menonjol dalam Freemasonry.v
 Rotary Club, Lions Club dan sebagainya. Perkumpulan orang elit bercorak khas Amerika. Pada dasarnya sebuah cabang lokal terdiri dari orang yang mewakili semua profesi (seorang dokter, seorang notaris, seorang guru sekolah, seorang pedagang, dan seterusnya), dan tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan. Dapat difahami sekiranya salah satu fungsi utama perkumpulan semacam ini bagi anggotanya adalah menyediakan jaringan "koneksi". (Freemasonry, tentu saja, mempunyai fungsi yang sama). Menurut sebagian penganjur teori tentang konspirasi Yahudi, perkumpulan tersebut mempunyai tujuan rahasia dan merupakan bagian dari persekongkolan Yahudi itu . Di Indonesia sebagian besar anggota perkumpulan tersebut, agaknya, terdiri dari orang Cina.v
 Marxisme dan sosialisme-sosialisme lainnya. Karl Marx memang seorang Yahudi (walaupun tak beragama Yahudi), dan sejumlah nama besar di partai-partai kiri dan gerakan buruh Eropa juga Yahudi. Tujuan marxisme sebetulnya bertolak belakang dengan Zionisme, tetapi hal ini diabaikan oleh penganjur teori konspirasi. Baik kapitalisme maupun anti-kapitalisme diyakini merupakan bagian dari konspirasi Yahudi-Zionis yang sama. Dan bukan itu saja; semua pemikiran dan ideologi modern dicurigai, termasuk liberalisme . Hal ini mungkin menunjukkan kepentingan apa, atau kekhawatiran golongan sosial mana, yang ada di balik teori konspirasi Yahudi itu. Seperti halnya di Eropa pada abad yang lalu, tampaknya Yahudi diidentikkan dengan segala aspek proses transformasi masyarakat tradisional, berkembangnya kapitalisme dan individualisme, sekularisasi dan humanisme dan munculnya konflik sosial-ekonomi.v

"Yahudi"nya Indonesia
Rasanya tidak terlalu mengejutkan kalau kita menyaksikan di Indonesia belakangan ini pemikir-pemikir Islam berwawasan kosmopolit sudah mulai dijuluk "Yahudi" dan "Zionis" pula. Gerakan pembaharuan Islam yang mengkritik faham-faham mapan, menawarkan pola penafsiran baru dan menganjurkan sikap toleran terhadap sesama Muslim maupun penganut agama lain, tentu saja dicurigai oleh golongan yang berpegang kuat kepada faham mapan. Sepanjang sejarah, para pembaharu sering dituduh ingin menghancurkan agama (sedangkan mereka sendiri mengaku ingin mengembalikan esensi agama kepada kedudukan yang sentral). Dengan semakin populernya teori tentang konspirasi Yahudi, dan mengikuti logika bahwa setiap hal yang mengancam Islam atau kemapanan apa pun adalah ulah Yahudi-Zionis, dengan sendirinya gerakan pembaharuan Islam mudah dituding sebagai bagian dari konspirasi Yahudi.
Setidaknya terdapat dua dimensi pada penjulukan "Yahudi" terhadap sementara pemikir Islam yang liberal. Yang pertama menyangkut pemikiran mereka, yang dituduh dipengaruhi oleh orientalisme (dan orientalisme, tentu saja, dianggap sebagai salah satu senjata Yahudi dalam usahanya untuk menghancurkan Islam). Yang kedua, dan ini yang pada hemat saya lebih penting, menyangkut kosmopolitanisme dan kemodernan mereka serta golongan sosial yang merupakan pendukung utama mereka. Sindiran dengan mencap "Yahudi" dan "Zionis" pernah dilontarkan dalam polemik melawan Nurcholish Madjid dengan Paramadinanya dan kemudian pula melawan LSAF dan majalah Ulumul Qur'an (pernah dijuluk Ulumul Talmud oleh pihak penentang). Yang dimaksud, agaknya, bukan saja keterbukaan, toleransi dan sikap berdamai mereka terhadap agama Kristen dan Yahudi, melainkan sesuatu yang lebih mendasar.
Baik Paramadina maupun LSAF mewakili trend baru dalam umat Islam, berkaitan erat dengan munculnya kelas menengah Islam yang sedang naik daun (dalam ekonomi maupun politik) dan yang mencari gaya Islam yang modern, bergengsi, "canggih" dan "trendy". Kelas baru ini, lebih terpelajar, kosmopolit dan percaya pada diri daripada generasi-generasi sebelumnya. Berikut mereka ini bergaya hidup modern dan individualis serta mungkin pula kurang peduli terhadap kesenjangan sosial yang ada. Bukankah mereka ini yang merupakan sasaran sebenarnya dari julukan "Yahudi"? Dalam polemik berkelanjutan antara penulis muda serial Media Dakwah dengan majalah Ulumul Qur'an, saya (kalau tidak sangat keliru) mencerna juga adanya pertentangan "orang kampungan" lawan "orang gedongan", yang masing-masing mempunya gaya menghayati Islam sendiri.
Di negara Pancasila, pertentangan "antar-golongan" tidak bisa diungkapkan secara terang-terangan, dan itu yang membuat kata "Yahudi" begitu berguna bagi orang tertentu. Indonesia tidak punya hubungan dengan Israel, dan agama Yahudi tidak termasuk lima agama yang resmi diakui. Oleh karena itu, mengutuk Yahudi tidak mengandung risiko tuduhan SARA, berbeda dengan kutukan terhadap pengusaha Cina, pejabat Katolik atau Orang Kaya Baru (bangsa Pondok Indah). Secara demikian teori konspirasi Zionis - Yahudi - Freemasonry - Rotary Club, yang diimpor dalam bentuk siap pakai, terbukti mempunyai fungsi serbaguna di Indonesia. Bukan saja semua perubahan sosial, ekonomi dan budaya yang terjadi dalam masyarakat dapat "dijelaskan" dalam kerangka teori ini, melainkan golongan yang tidak disegani pun dapat dengan mudah dituding pula sebagai bagian dari konspirasi yang sama.
Wacana tentang Yahudi dan konspirasi untuk menguasai dunia, dengan Protokol-Protokol Para Sesepuh Zion sebagai sumber utama, berasal dari Eropa dan masih mencerminkan pertentangan sosial di Eropa pada masa laju modernisasi berlangsung begitu cepat. Wacana tersebut sampai ke Indonesia melalui Timur Tengah (terutama Arab Saudi) setelah menjadi bagian dari pandangan dunia Islam yang dipropagandakan Rabithah Al-`Alam Al-Islami. Di Indonesia, wacana ini telah mendapat fungsi baru dan diterapkan untuk membicarakan pertentangan yang sesungguhnya kasatmata namun tidak bisa dibicarakan secara terbuka. Wacana ini tidak membantu untuk memahami apa yang terjadi di sekitar kita, tetapi mungkin saja lebih memuaskan sebagai penjelasan dan pembenaran kegagalan orang daripada sebuah analisa yang sungguh-sungguh. Dan sejarah Eropa abad terakhir ini menunjukkan betapa berbahaya wacana ini.




( FORMULASI STRATEGI )

JURNAL
( FORMULASI STRATEGI )

PENDAHULUAN
            Dalam sebuah teori yang saya pelajari, saya menganalisa  perekonomian  Indonesia dinilai terus menguat. Penguatan itu terlihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Terbukti, di tengah ketidak pastian ekonomi global Indonesia masih bisa tumbuh 5,02% tahun lalu.
Menurut analisa saya dari Bank Dunia (World Bank) pun memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2017 ini sebesar 5,2%. Pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat serta harga komoditas yang lebih tinggi dinilai menjadi pendorong utama. Pertumbuhan ekonomi naik pertama kali dalam 5 tahun terakhir. PDB 2016 bisa mencapai 5,02% dari 4,9% di 2015, itu kabar baik. Setelah penguatan di 2016, pertumbuhan ekonomi 2017 diharapkan akan sangat membantu bagi kenaikan harga komoditas dan diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi 5,2% dan 5,3% di 2018,"kata Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia, Rodrigo Chaves saat acara Indonesia Economic Quarterly, di Energy Building, SCBD, Jakarta, Senin (22/3/2017).
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga diproyeksikan akan meningkat karena nilai tukar rupiah yang stabil. Sementara, upah riil yang lebih tinggi dan angka pengangguran yang terus menurun memberi dukungan bagi peningkatan daya beli konsumen .
Pertumbuhan investasi swasta iuga diperkirakan meningkat oleh karena harga komoditas yang sudah pulih kembali, serta efek dari pelonggaran moneter pada 2016 serta reformasi ekonomi baru-baru ini. Pada saat yang sama, harga komoditas yang lebih tinggi juga akan mengurangi kendala fiskal dan meningkatkan belanja pemerintah, sedangkan pertumbuhan global yang menguat akan meningkatkan ekspor.
Namun, bukan berarti indonesia harus tenang-tenang saja, melainkan Indonesia juga masih perlu mewaspadai kondisi global saat ini. Antara lain dari perubahan dalam kebijakan perdagangan di negara-negara maju, perubahan yang tidak terduga dalam kebijakan moneter AS, ketidak pastian politik di Eropa, meningkatnya inflasi domestik yang berkepanjangan, dan penerimaan fiskal yang lemah memberikan risiko penurunan yang signifikan.
Pihak otoritas masih waspadai beberapa risiko agar bisa menjangkau setiap peluang secara hati-hati. Peluang juga datang dari perekonomian global sehingga meningkatkan perekonomian Indonesia. Juga harus memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan inklusif sehingga memberi peluang bagi seluruh rakyat," kata dia. Sementara, Bank Dunia memproyeksi laju inflasi bakal melonjak dari 3,5% pada 2016, menjadi 4,3% di 2017 ini. Pendorongnya ialah, adanya penyesuaian tarif listrik dan pajak kendaraan bermotor. Namun demikian, inflasi diproyeksikan akan kembali turun pada tahun 2018, karena hilangnya efek kenaikan harga.
Defisit fiskal juga diproyeksikan akan meningkat oleh karena meningkatnya investasi infrastruktur publik. Keseimbangan fiskal pemerintah pusat diproyeksikan sebesar 2,6% dari PDB pada tahun 2017, lebih besar dan defisit sebesar 2,4% dalam APBN Pemerintah tahun 2017 yang sudah disetujui, semua ini analisa dari data yang kami peroleh mengenai perokonomian indonesia.
Begitu juga belanja publik yang lebih tinggi, sebagian karena adanya upaya baru untuk meningkatkan investasi infrastruktur publik, diharapkan sebagian akan diimbangi oleh pertumbuhan penerimaan, yang pada gilirannya akan dihasilkan oleh pertumbuhan PDB yang lebih kuat dan dividen dari reformasi kebijakan administrasi dan perpajakan.
Peningkatan laju inflasi yang berkepanjangan oleh karena kenaikan harga, dapat menimbulkan risiko penurunan yang besar bagi pertumbuhan konsumsi. Terlepas dari gejolak nilai tukar, konsumen pada umumnya sensitif terhadap kenajkan harga, terutama harga makanan, dan konsumsi rumah tangga merupakan bagian dominan perekonomian Indonesia.
Jika inflasi tetap tinggi dan lebih lama dari yang diperkirakan, pengeluaran konsumen dapat menurun, yang mengakibatkan pengeluaran lebih rendah. Selain itu, Bank Indonesia dapat terdorong untuk memperketat kebijakan, yang juga akan meredam pertumbuhan investasi.  Pada saat yang sama, penerimaan fiskal terus menyebabkan terjadinya risiko penurunan, karena penerimaan yang rendah membatasi pengeluaran fiskal dan investasi infrastruktur yang sangat dibutuhkan.
Inilah hasil analisa yang saya lakukan dari beberapa data yang ada saya peroleh baik itu berupa tulisan maupun analisa dengan merasakan keadaan yang saya rasakan sekarang.
RUMUSAN MASALAH
Melihat semakin pesatnya persaingan, maka Setiap usaha harus memiliki mampu bersaing dalam melaksanakan usahanya untuk bersaing dengan lawan. Maka dari itu dibutuhkannya sebuah formulasi strategi yang mumpuni dalam melaksanakan usaha. Untuk itu kami disini akan mejelaskan mengenai formulasi strategi dan formulasi strategi yang digunakan oleh pemilik  PT. Agrisatwa Jaya selaku PT yang mengelolah sapi-sapi lokal sesuai dengan hasil analisa dan wawancara kami.
PEMBAHASAN
Formulasi strategi (Strategic Formulation) merupakan suatu proses untuk menetapkan tujuan jangka panjang dan strategi korporasi/strategi total/strategi bisnis dan menetapkan tujuan tahunan dengan strategi fungsi. Kegiatan formulasi strategi bisa dilakukan oleh orang di luar perusahaan (seperti tenaga konsultan) dan juga bisa dilakukan oleh orang dalam perusahaan. Sebagaimana dilaporkan oleh Yone May A.H. dalam Kumpulan Hasil-hasil Penelitian Tentang Formulasi, Implementasi dan Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah di Kalimantan Timur oleh Armanu Thoyib (Eds. 2003) bahwa pada organisasi publik (organisasi pemerintah) di era otonomi daerah, Badan Perencanaan Daerah memiliki peran penting dalam membuat perencanaan pembangunan daerah termasuk perencanaan di bidang sumberdaya  manusia. 
Pada penerapan strategi (Strategic Implementation), hanya orang dalam (manajemen dan karyawan) perusahaan yang memiliki wewenang untuk melaksanakannya. Adul Majid Satui dalam Armanu Thoyib (Eds. 2003), menjelaskan bahwa implementasi kebijakan tanah, dalam rangka tertib administrasi pertanahan di Dinas Pertanahan Malinau Kalimantan Timur, telah dilaksanakan oleh Dinas Pertananahan bersama dengan Sub-dinasnya sesuai dengan perencanaan dan segala aturannya. Pada penerapan strategi inilah peran pemimpin sangat besar, dan disinilah McKinsey 7-S Frameworkjuga mengingatkan bahwa Style (gaya kepemimpinan) menentukan strategi. (Pearce and Robinson, 2000: 399-400).
1.      PREDIKSI PERUBAHAN EKSTERNAL
Manajemen perusahan atau pengambil keputusan harus membuat berbagai pertimbangan atas kejadian pada lingkungan perekonomian dimana mereka berada. Pertimbangan ini akan sangat bermanfaan untuk memperkirakan arah perkembangan ekonomi, yang akan berpengaruh terhadaap kinerja perusahaan. perEkonomian yang dipengaruhi oleh maraknya globalisasi membuat indonesia wajib membuka pintu terhadap masuk produk-produk dari luar. Persaingan pada era globalisasi sudah tidak bisa dihindari khususnya di bidang bisnis.
Akibat persaingan yang semakin berat membuat para pengusahan/perusahaan harus bekerja keras sehingga tetap digunakan oleh pelangganya. Dengan keadaan hal yang seperti ini perusahaan tidak boleh memiliki sifat menerima atau memiliki sifat hanya menunggu saja dalam melaksanan bisnis. Manajemen harus berpikir antisipasi dan berpikir strategi agar menjadi perusahaan yang kuat dan mampu bersaing.
Untuk menjadikan perusahaan yang kuat, menejemen perusahaan wajib mengubah pola pikir yang hanya memikirkan keuntungan jangka pendek, pola pikir yang harus dilakukan adalah berpikir strategi. Salah satu caranya adalah mengimplementasikan strategi yang telas dirumuskan bersama.
2.      STRATEGI INVESTASI
Strategi Investasi adalah strategi bersaing perusahaan yang sesuia dengan ukuran yang disepakati untuk mencapai tujuan yang telas ditentukan dalam jangka panjang. Ada beberapa kstrategi investasi yang diterapkan oleh perusahaan, diantaranya strategi investasi yang diterapkan oleh PT. Agrisatwa Jaya Kencana yang terletak di kec. Gondaglegi malang jawa timur berdasarkan hasil penelitian dan wawancara bersama bapak mahrus M.pd selaku pendiri dan pemilik  PT. Agrisatwa Jaya yang akan diuraikan sebagai berikut:
2.1.              Konsentrasi
Strategi ini cukup baik untuk PT. Agrisatwa Jaya  merupakan PT yang memproduksi sapi-sapi lokal yang ada di jawa timur saja. Karna strategi konsentrasi ini lebih mengarah pada sumber daya dan dana yang dimiliki untuk mengembangkan bisnis dalam pasar tententu. melihat dari apa yang disampaikan pemilik PT, pengriman ke luar jawa pada saat adanya pemesanan serta melihat kapasitas yang ada. Karna beliau mengatakan kebutuhan masyarakat jawa timur harus Didahulukan terlebih dahulu.
Karna memang analogi sederhananya kebutuhan hidup manusia semakain hari semakin bertamnbah, sehingga mendahulukan kebutuhan hidup dilingkungannya memang harus didahulukan terlebih dahulu, sehingga strategi konsentrasi lebih tepat.
Memang dapat dijadikan sebuah landasar berpikir dalam segala aspek untuk melakukan bisnis dengan meninjau berbagai hal misalnya:
a.       Semakin meningkatnya pertumbuhan manusia
b.      Semakin meningkatnya aktivitas kehidupan
c.       Semakin meningkatnya kebutuhan
Tiga inilah yang dijadikan landasar berpikir strategis konsentrasi oleh pendiri PT. Agrisatwa Jaya .
            Strategi investasi selain memiliki strategi konsentrasi juga bisa menarik pelanggan yang dimiliki pesaing mislanya:
a.       Meningkatkan promosi produk lokal kepada konsumen, karna pentinya mencintai produk lokal dari pada produk yang non lokal.
b.      Menyediakan kelengkapan, sehingga para pelanggan merasa terpenuhi dan perusahaan dipercayai.
Strategi konsentrasi sangat sesuai dengan pasar, yang mana pasarnya Dituju begitu mudah, Tidak jauh, bisa menganalisa keinginan konsumen.
2.2.        Perluasan Pasar
Bila manajer kurang misalnya leluasan dalam memilih strategi konsentrasi, bisa melakukan strategi kedua yaitu strategi perluasan pasar baik dalam tinkat wilayah maupun segmen pasar yang dituju. Biasanya strategi ini Diterapkan setelah strategi konsentrasi, jika startegi perluasan pasar diterapkan terlebih dahulu sangat sulit untuk menerapkannya. Makanya bannyak perusahan maupun PT terlebih dahulu mereka menerapkan strategi konsentrasi, karna dari strategi konsentrasi inilah perusahaan lebih mudah dalam menerapkan strategi perluasan pasar. Dan dua strategi ini memang harus ada demi perkembangan sebuah perusahaan maupun bisnis dal lainya.
Strategi perluasan pasar pada dasarnya menambah ruanglingkup pemasaran. Artinya perusahaan dapa melakukan atau menambah jangkauan pasar dengan strategi ini. Tentu hal ini perlu dukungan sumber daya, baik itu sdm, kendaraan, bahannya dll yang dibutuhkan. Pengembangan pasar juga dapat dilakukan dengan cara mengembangkan kualitas produk perussahaan.








KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penjelasan  diatas maka dapat disimpulkan bahwasanya  butuhnya sebuah strategi yang baik dalam mengembangnkan sebuah usaha. Usaha yang dijalankan oleh PT. Agrisatwa jaya merupakan usaha yang memiliki strategi yang cukup baik dalam mengembangkan usahanyan dengan strategi yang digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
Basu Swasta DH dan Irwan, 1986, manajemen pemasaaran modern, Liberty, Yokyakarta
Ddandelilin, 1991,”Pemasaran Strategi Dalam Menciptakan Keunggulan Bersaing Perusahaan”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, No 1 Tahun VI 1991, BPFE, Yokyakrta
Suwarsono, 1994, Manajemen Startegi : Konsep, Alat Analisa dan Konteks, UUP AMP YKPN, Yogyakarta
Wheelen, T. L. & Hunger, J. D. (2012). Strategic management and business policy: Toward global sustainability  (13thed.). New Jersey: Prentice Hall.

Minggu, 15 Oktober 2017

METODOLOGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

A.   

  Pendahuluan
Fazlur Rahman mengemukakan bahwa salah satu poblem pendidikan umat Islam adalah problem metode pendidikan. Pendidikan umat Islam senantiasa menggunakan metode hafalan, yang tidak dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir kritis dan kreatif.[1][1] Seringkali dijumpai seorang guru yang berpengetahuan luas tetapi tidak berhasil dalam mengajar, hanya karena tidak menguasai metode mengajar. Itulah sebabnya, metode mengajar menjadi salah satu obyek bahasan yang penting dalam pendidikan.[2][2] Oleh karena itu, Nazarudin Rahman berpendapat bahwa guru sebagai dari kerangka system pendidikan dituntut untuk selalu mengembangkan keterampilan mengajar yang sesuai dengan kemajuan zaman dan lingkungan lokal dimana proses pendidikan itu dilakukan. Jika guru bersikap statis (merasa cukup dengan apa yang sudah ada) maka proses pendidikan itu akan statis pula bahkan mundur.[3][3] Keberadaan metodologi pembelajaran merupakan salah satu solusi yang dapat dijadikan guru dalam memecahkan persoalan tersebut, karena merupakan hasil pengkajian dan pengujian melalui metode ilmiah.
Metodologi berarti ilmu tentang metode, sementara metode berarti cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Dalam ilmu tentang mengajar, metodologi disebut didaktik yaitu ilmu yang membahas tentang kegiatan proses belajar mengajar yang menimbulkan proses belajar. Didaktik dibedakan menjadi dua, yaitu dikdaktik umum dan didaktik khusus. Didaktik umum membahas prinsip-prinsip umum dalam mengajar dan belajar, sedangkan didaktik khusus yaitu membahas cara-cara guru menyajikan bahan pelajaran kepada pelajar.[4][4] Dan dalam Islam, da’wah dan pendidikan tidak bisa dipisahkan, keduanya terjadi jalinan yang sangat erat dan banyak mengalami persamaan-persamaan, hal ini ditegaskan Syeh Ali Manfudz bahwa :
“Sesungguhnya dakwah kepada kebaikan itu adalah pendidikan, dan pendidikan yang bermanfaat itu hanyalah ada dengan amal perbuatan, karena pendidikan itu tegak berdiri atas teladan yang baik dan uswatun hasanah”.[5][5]

Adapun dalam makalah ini akan membahas metodologi pembelajaran PAI, sebagai ilmu dalam mengembangkan cara mengajar baik berupa prinsip-prinsip umum dalam mengajar dan belajar (didaktik umum), dan membahas cara guru dalam menyajikan materi dalam kegiatan proses pembelajaran dikelas (didaktik khusus) tentunnya pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Dengan demikian tujuan pembembelaran PAI akan tercapai.
Dari beberapa penjelasan di atas, maka dalam makalah ini penulis akan merumuskan beberapa masalah, sebagai berikut :
1.        Apakah metodologi pembelajaran PAI itu ?
2.        Prisnsip-prinsip apa saja yang terdapat dalam metodologi pembelajaran PAI ?
3.        Bagaimana implementasi metodologi pembelajaran PAI pada kegiatan pembelajaran di kelas?

B.  MetodologiPembelajaran PAI
1.   PengertianMetodologiPembelajaran.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, metodologi berarti ilmu tentang metode atau uraian tentang metode.[6][6] Dan dalam bahasa Arab disebut minhaj, wasilah, kaipiyah,dan thoriqoh, semuanya adalah sinonim, namun yang paling populer digunakan dalam dunia pendidikan Islam adalah thoriqoh, bentuk jama’ dari thuruq yang berarti jalan atau cara yang harus ditempuh.[7][7] Menurut M. Arifin, Metodologi berasal dari dua kata yaitu metode dan logi. Adapun metode berasal dari dua kata yaitu meta(melalui) dan hodos (jalan atau cara), dan logi yang berasal dari bahasa Greek (Yunani) yaitu logos (akal atau ilmu), maka metodologi adalah ilmu pengetahuan tentang jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Dengan demikian, metodologi pendidikan adalah sesuatu ilmu pengetahuan tentang metode yang dipergunakan dalam pekerjaan mendidik.[8][8] Hanya saja, Mahmud Yunus menambahkan baik dalam lingkungan perusahaan atau perniagaan, maupun dalam kupasan ilmu pengetahuan dan lainnya.[9][9]
Dalam bahasa Inggris, metode di sebut method dan way, keduanya diartikan cara. Sebenarnya yang lebih layak diterjemahkan cara adalah kata wayitu, bukan kata method. Karena metode istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pengertian “cara yang paling tepat (efektif) dan cepat (efisien)” dalam melakukan sesuatu.[10][10] Maka metodologi dalam pengertian ini adalah ilmu tetang metode yaitu ilmu yang mempelajari cara yang paling tepat (efektif) dan cepat (efisien) untuk mencapaian tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Berdasarkan pengertian di tersebut, maka dijumpai dalam buku metodologi pengajaran lebih banyak membahas bermacam-macam metode, seperti metode ceramah, tanya jawab, diskusi, demontrasi dan lain-lain.
Pengertian yang lebih luas tentang metodologi adalah pendapat Hasan Langgulung, yang menyatakan bahwa metodologi pengajaran ialah ilmu yang mempelajari segala hal yang akan membawa proses pengajaran bisa lebih efektif. Dengan kata lain metodologi ini menjawab pertanyaan how, what, dan who yaitupertanyaan bagaimana mempelajari sesuatu (metode)?, apa yang harus dipelajari (ilmu)?, serta  siapa yang mempelajari (peserta didik) dan siapa yang mengajarkan (guru)?.[11][11] Pendapat yang semakna dengan di atas dikemukakan oleh Omar Mohmmad Al-Toumy Al-Syaibany yang menyatakan bahwa :[12][12]
“metode mengajar bermakna segala segi kegiatan yang terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangka kemestian-kemestian mata pelajaran yang diajarkan, ciri-ciri perkembangan murid-muridnya, dan suasana alam sekitarnya dan tujuan menolong murid-muridnya untuk mencapai proses belajar yang diinginkan dan perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku mereka. Selanjutnya menolong mereka memperoleh maklumat, pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, sikap, minat dan nilai-nilai yang diinginkan.

Pendapat di atas diperkuat dengan fiman Allah dalam surah An-Nahl : 125, yang artinya sebagai berikut :
Serulah (Manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan bijaksanadan nasehat yang baik, serta berbantahlah mereka dengan cara yang baik (QS.An-Nahl : 125).

Dengan demikian, metodologi pembelajaran tidak hanya membahas metode semata, tapi kajiannya lebih luas yaitu mengaitkan cara mengunakan metode dengan bahan yang diajarkan, peserta didik dan guru bahkan lingkungan.
Adapun pengertian pembelajaran menurut beberapa ahli, sebagai berikut :[13][13]
a.         Pendapat Gagne, bahwa pembelajaran diartikan seperangkat acara pristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung terjadinya proses belajar yang bersifat internal.
b.        J. Drost (1999), menyatakan bahwa pembelajaran merupakan usaha yang dilakukan untuk menjadikan orang lain belajar.
c.         Mulkan (1993), memahami pembelajarann sebagai suatu aktifitas guna menciptakan kreativitas siswa.
            PadaPasal 1 butir 20 UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni “Pembelajaranadalah proses interaksipesertadidikdenganpendidikdansumberbelajarpadasuatulingkunganbelajar”. Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa pembelajaran adalah serangkaian kegiatan atau situasi yang sengaja dirancang agar interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar  dapat melakukan aktifitas belajar. 
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat dikemukankan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memahami metodologi pembelajaran, yaitu sebagai berikut :
a.    metodologi pembelajaran adalah sebuah ilmu dalam mengembangkan cara yang dilalui dalam proses pembelajaran yang berupa prinsip-prinsip umum dalam mengajar dan belajar (didaktik umum).
b.    metodologi pembelajaran adalah sebuah ilmu yang membahas cara yang paling cepat (efektif) dan cepat (efisian) yang dapat digunakan guru dalam menyajikan materi dalam kegiatan proses pembelajaran dikelas (Didaktik khusus).

2.        Pendidikan Agama Islam (PAI).
Pendidikan berasal dari kata didik. Dengan diberi awalan pend dan akhiran kan, yang mengandung arti perbuatan, hal, dan cara. Pendidikan Agama dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah religion education, yang diartikan sebagai suatu kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan orang beragama. Pendidikan agama tidak cukup hanya memberikan pengetahuan tentang agama saja, tetapi lebih ditekankan pada feeling attituted, personal ideals, aktivitas kepercayaan.[14][14]
Dalam bahasa Arab, ada beberapa istilah yang bisa digunakan dalam pengertian pendidikan, yaitu ta’lim (mengajar),[15][15] ta’dib (mendidik),[16][16] dan tarbiyah (mendidik).[17][17] Namun menurut al-Attas (1980) dalam Hasan Langgulung, bahwa kata ta’dib yang lebih tepat digunakan dalam pendidikan agama Islam, karena tidak terlalu sempit sekedar mengajar saja, dan tidak terlalu luas, sebagaimana kata terbiyah juga digunakan untuk hewan dan tumbuh-tumbuhan dengan pengertian memelihara.[18][18] Dalam perkembangan selanjutnya, bidang speliasisai dalam ilmu pengetahuan, kata adab dipakai untuk kesusastraan, dan tarbiyah digunakan dalam pendidikan Islam hingga populer sampai sekarang.[19][19] Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam di sekolah diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama Islam.
Nazarudin Rahman menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran PAI, yaitu sebagai berikut : [20][20]
a.         Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan membimbing, pengajaran dan / atau latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar atas tujuan yang hendak dicapai.
b.        Peserta didik harus disiapkan untuk mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam.
c.         Pendidik atau Guru Agama Islam (GPAI) harus disiapkan untuk bisa menjalankan tugasnnya, yakni merencanakan bimbingan, pangajaran dan pelatihan.
d.        Kegiatan pembelajaran PAI diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama Islam.
Sebagai salah satu komponen ilmu pendidikan Islam, metode pembelajaran PAI harus mengandung potensi yang bersifat mengarahkan materi pelajaran kepada tujuan pendidikan agama Islam yang hendak dicapai proses pembelajaran.
Dalam konteks tujuan Pendidikan Agama Islam di sekolah umum, Departemen Pendidikan Nasional  merumuskan sebagai berikut : [21][21]
a.         Menumbuh kembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
b.        Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, berdisiplin, bertoleran (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.

Lebih lanjut, menurut Arifin, ada tiga aspek nilai yang terkandung dalam tujuan pendidikan Islam yang hendak direalisasikan melalui metode, yaitu : pertama, membentuk peserta didik menjadi hamba Allah yang mengabdi kepadaNya semata. Kedua, bernilai edukatif yang mengacu kepada petunjuk Al-Qur’an dan Al-hadist. Ketiga, berkaitan dengan motivasi dan kedisiplinan sesuai dengan ajaran al-Qur’an yang disebut pahala dan siksaan.[22][22]
Berangkat dari beberapa penjelasan tersebut, dapat dikemukan bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah usaha sadar, yakni suatu kegiatan membimbing, pengajaran dan / atau latihan yang dilakukan GPAI secara berencana dan sadar dengan tujuan agar peserta didik bisa menumbuh kembangkan akidahnya melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT yang pada akhirnya mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia.
Agar hal di atas tercapai, maka GPAI dituntut mampu mengembangkan kemampuannya dalam pembelajaran PAI, disinilah pentingnya mempelajari metodologi pembelajaran PAI.  

3.   Prinsip- PrinsipMetodologi Pembelajaran PAI
Metodologi pembelajaran merupakan ilmu bantu yang tidak dapat berdiri sendiri, tetapi berfungsi membantu dalam proses pembelajaran, karena memberikan alternatif dan mengandung unsur-unsur inovatif.
Menurut Mulyasa (2004), tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan prilaku peserta didik. Oleh karena itu, Firdaus (2005) menjelaskan bahwa pembelajaran pada dasarnya merupakan proses pengalaman belajar yang sistematis yang bermanfaat untuk siswa dalam kehidupannya kelak dan pengalaman belajar  yang diperoleh siswa juga sekaligus mengilhami mereka ketika menghadapi problem dalam kehidupan sesungguhnya.[23][23] Dalam kontek pemberian pengalaman belajar yang dimaksud di atas, maka implementasi metodologi pembelajaran yang selama konvensional (terpusat pada guru), sudah saatnya untuk diganti dengan metodologi pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif dalam pembelajaran.
Menurut Omar Muhammad Al-Thoumy Al-Saibany, prinsip-prinsipmetodologipendidikanIslam adalahsebagaiberikut:
a.         menjagamotivasi, kebutuhan, danminatdan keinginan pelajar pada proses belajar.
b.        menjaga tujuanpembelajaran yang telahditetapkan.
c.         memelihara tahapkematangan, perkembangan, danperubahananakdidik.
d.        menjagaperbedaan-perbedaanindividudalamanakdidik.
e.         mempersiapkan peluang partisipasi praktikal; sehingga menjadi keterampilan, adat kebiasaan, sikap dan nilai.
f.         memperhatikankepahaman, danmengetahuihubungan-hubungan, integrasipengalamandankelanjutannya, keaslian, pembaharuan, dankebebasanberpikir.
g.        menjadikan proses pendidikansebagaipengalaman yang menggembirakanbagianakdidik.[24][24]
Pendapat yang hampir sama, menurut Abdurrahman Mas’ud, bahwa secara teknis dalam penerapan metode, guru harus melakukan hal-hal sebagai berikut :
a.         Guru hendaknya bertindak sebagai role model, suri tauladan bagi kehidupan sosial siswa, baik di dalam maupun luar di luar kelas.
b.        Garu hendaknya menunjukkan sikap kasih sayang kepada siswa.
c.         Guru hendaknya memperlakukan siswa sebagai subyek dan mitra belajar, bukan obyek.
d.        Guru hendaknya bertindak sebagai fasilitator, promotor of learning yang lebih mengutamakan bimbingan, menumbuhkan kreativitas siswa, serta interakstif dan kamunikatif dengan siswa.[25][25]
Maka menurut Syaiful Bahri, dalam penggunaan metode hendaknya didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
a.         Selalu beroritentasi pada tujuan.
b.        Tidak terikat pada satu alternatif saja.
c.         Kerap dipergunakan sebagai suatu kombinasi dari berbagai metode.
d.        Kerap dipergunakan berganti-ganti dari satu metode ke metode lain.[26][26]
Sedangkan menurut Ahmad Tafsir, cara yang paling tepat dan cepat dalam pembelajaran agama Islam  yaitu dengan memperhatikan beberapa pertanyaan yang harus dijawab ketika metodologi pembelajaran PAI mau diterapkan, yaitu : siapa yang diajar?, berapa jumlahnya?, seberapa dalam agama itu akan diajarkan?, seberapa luas yang akan diajarkan?, dimana pelajaran itu berlangsung? dan peralatan apa saja yang tersedia?. [27][27]
                  Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa prinsip metodologi pembalajaran PAI harus dapat memungkinkan pembelajaran PAI terpusat pada guru dan siswa yang menjadi komponen penentu dalam pembelajaran, yaitu terjadinya interaksi antara guru dan siswa bersama-sama dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran PAI. Dalam hubungan ini tugas guru PAI bukan hanya menyampaikan pesan berupa materi pelajaran, melainkan pemahaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar, dengan kata lain meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

4.   Manfaat Metodologi Pembelajaran PAI
Metode-metode pembelajaran PAI memiliki manfaat bagi pendidik dan peserta didik, baik dalam proses belajar dan pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari, bahkan untuk hari esok. Sehubungan dengan itu, Omar Muhammad Al-Thoumy Al-SaibanymengatakanbahwakegunaanmetodologipendidikanIslam adalahsebagaiberikut:
a.    menolongsiswadalammengembangkanilmupengetahuan, pengalaman, keterampilan, terutama berpikirilmiah dan sikap dalm satu kesatuan.
b.    membiasakanpelajarberpikirsehat, rajin, sabar, dantelitidalammenuntutilmu.
c.    memudahkanpencapaiantujuanpembelajaran secara efektif dan efisien.
d.   menciptakansuasanabelajar mengajar yang kondusif, komunikatif, sehinggadapat meningkatkan motivasi peserta didik.[28][28]
                  Dengan demikian, keberadaan metodologi pembelajaran menunjukkan pentingnya metode dalam sistem pengajaran. Tujuan dan materi yang baik tanpa didukung dengan metode penyampaian yang baik dapat menghasilkan yang tidak baik. Atas dasar itu, pendidikan agama Islam sangat memperhatikan terhadap masalah metodologi pembelajaran ini. Sebagaimana hadits nabi, yang artinya sebagai berikut :
      Bagi segala sesuatu itu ada caranya (metodenya). Dan metode masuk surga, adalah ilmu (H.R. Dailami).[29][29]

5.  Metode-metode Pembelajaran PAI
Metodologi pembelajaran PAI ini tidak akan ada artinya kalau tidak dilaksanakan dalam praktek pendidikan. Pelaksanaan metodologi pembelajaran PAI itu dalam pembelajaran diantaranya pemilihan metode mangajar yang efektif dan efisian. Dalam al-Qur’an banyak metode yang bisa diterapkan untuk menyampaikan kalam-kalam Allah kepada manusia, seperti metode cerita, diskusi, tanya jawab (dialog), metode perumpamaan (metafora), metode hukuman dan ganjaran.[30][30]
Selain metode yang terdapat dalam Al-Qur’an, menurut Ramayulis, ada beberapa metode yang dapat kita gunakan dalam pembelajaran Pendidikan agama Islam, diantaranya : metode ceramah, diskusi, tanya jawab, demontrasi, karyawisata, penugasan, pemecahan masalah, simulasi, eksperimen, penemuan, sosio drama, kerja kelompok dan lain-lain.[31][31] Metode-metode tersebut secara konvensional telah banyak dipraktekkan oleh GPAI disekolah terutama metode ceramah dan tanya jawab.
Lebih lanjut, Nazarudin Rahman menjelaskan ada beberapa model pembelajaran yang dapat mewujudkan kegiatan belajar siswa aktif, diantaranya : Jigsaw (tim ahli), Cooperatif Script (bekerja berpasangan), Problem Based Introduction (PBI), Artikulasi, Group Investigation, Explicit Intruction, Coopetive Intergrated Reading dan Compotion, Inside-Outside-Circle, Consep Sentece, Complete Sentese, Mind Mapping.[32][32] Metode-metode ini belum begitu populer di kalangan GPAI, sebagian kecil saja yang menerapkannya dalam proses pembelajaran.
                   Metode-metode tersebut, boleh saja digunakan dalam pendidikan agama Islam asal tidak bertentangan prinsip-prinsip yang mendasarinya. Kalau dilihat dari Al-Qur’an dan Al-Hadits maka ayat-ayat dan hadist yang menjadi dasar dari metode-metode tersebut. Perlu disadari bahwa sangat sulit untuk menentukan  menentukan metode mana yang terbaik, yang paling sesuai atau efektif. Penentuan metode sangat erat hubungannya dengan kemampuan guru, materi dan siswa serta sarana prasarana yang tersedia.
                   Menurut Ing S. Ulih Karo-karo dalam Ramayulis, ada beberapa faktor yang harus diperahatikan dalam metode mengajar, diantaranya  tujuan yang hendak dicapai,  pelajar, bahan pelajaran, fasilitas, guru, situasi, partisipasi dan kebaikan dan kelemahan metode tersebut.[33][33]
                   Dengan demikian, GPAI harus cerdas dalam memilih metode pembelajaran, yaitu metode yang memungkinkan siswa yang belajar dalam kontek yang bermakna. Bermakna yang dimaksud, menjadikan pengetahuan yang relevan dengan siswa, memberikan kesempatan kepada siswa melakukan pengamatan, mengumpulkan data, menganalisi, menemukan dan menyimpulkan. Dan GPAI harus merubah kebiasaan yang selama ini hanya menggunakan metode konvensional menuju inovasi baru yaitu metode pembalajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.


C.  Kesimpulan
Metodologipembelajaran PAI adalahilmu yang mempelajari cara yang paling tepat (efektif) dan cepat (efisien) untuk mencapaian tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Metodologi pembalajaran PAI harus dapat memungkinkan pembelajaran PAI terpusat pada guru dan siswa yang menjadi komponen penentu dalam pembelajaran, yaitu terjadinya interaksi antara guru dan siswa bersama-sama dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran PAI. Dalam hubungan ini tugas guru PAI bukan hanya menyampaikan pesan berupa materi pelajaran, melainkan pemahaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar, dengan kata lain meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dengan demikian, GPAI harus cerdas dalam memilih metode pembelajaran,  dan GPAI dituntut untuk selalu megembangkan dan memperbaharui (berinovasi) dalam menggunakan metode pembelajaran, hingga dapat merubah kebiasaan yang lama yaitu merasa cukup dengan metode konvensional yang sudah ada.


DaftarPustaka

Abdurrahman Mas’ud, 2002, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik ; Humanisme Raligius sebagai Paradigma Pendidikan Islam, Yogyakarta, Gama Media.
Abdurrahman Saleh Abdullah,1994, Teori-teori Pendidikan berdasarkan Al-Qur’an, cet. kedua, Jakarta, Rineka Cipta.
Abu Taudhied, 1990, Beberapa Aspek Pendidikan Islam, Yogyakarta, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Ahmad tafsir, 2004, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Cet ke delapan. Bandung, Remaja Rosdakarya.
ArifArmai, 2002, PengantarIlmudanMetodologi Pendidikan Islam, Jakarta: CIPUTAT PRES.
Hasan Langgulung, 2000, Asas-asas Pendidikan Islam, edisi revisi, Jakarta, Al-Husna Zikra.
M. Arifin, 1996, Ilmu Pendidikan Islam; suatu tinjauan teoritis dan praktis berdasarkan pendekatan Interdisipliner, cet. ke empat. Jakarta, Bumi Aksara.
Nazarudin Rahman, 2009, Manajemen Pembelajaran ; Implementasi Konsep, Karakteristik dan Metodologi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum, Cet I, Yogyakarta, Pustaka Felicha.
Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, 1979, Falsafah Pendidikan Islam, Alih bahasa Hasan Langgulung, cet. pertama. Jakarta, Bulan Bintang.
Ramayulis, 2001, Metodologi Pengajaran Agama Islam, cet ketiga, Jakarta, Kalam Mulia.
Syaiful Bahri Djamarah, 2000, Guru dan Anak Didik ; dalam interaksi edukatif, Cet. pertama, Jakarta. Rineka Cipta.
Tim Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, 2002, Jurnal Ilmu Pendidikan Islam; Kajian tentang Konsep, Problem dan Prospek Pendidikan Islam, edisi Vol. 3 No. 2 Januari 2001, Yogyakarta, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kali Jaga.
Tim DirJen Pembinaan PAI pada Sekolah Umum, 2001, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta : Depatemen Agama RI.


[1][1]Sutrisno, Problem-Problem Pendidikan Umat Islam; Studi atas Pemikiran Fazlur Rahman,  dalam Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, Vol. 3 no 2 Januari 2002, Yogyakarta, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, hal. 31-21.  
[2][2]Tim Dirjen Pembinaan PAI pada Sekolah Umum, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta : Depatemen Agama RI, 2001, hal. 20.
[3][3]Nazarudin Rahman, Manajemen Pembelajaran ; Implementasi Konsep, Karakteristik dan Metodologi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum, Cet I, Yogyakarta, Pustaka Felicha, 2009, hal. i.
[4][4]Tim Dirjen Pembinaan PAI pada Sekolah Umum, Op.Cit., hal. 19.
[5][5]Abu Tauhied, Beberapa Aspek Pendidikan Islam, Yogyakarat, Fak.Tarbiyah IAIN Sunan Kali Jaga, 1990. Hal. 75.
[6][6]Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Indonesia, Cet. empat, Jakarta, Balai Pustaka, 2007. Hal. 741.
[7][7]Abu Tauhied, Op. Cit. Hal. 72.
[8][8]M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam; Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, cet. ke empat, Jakarta, Bumi Aksara, 1996. Hal. 61.
[9][9]ArmaiArief,PengantarIlmudanMetodologiPendidikan Islam, Jakarta, Ciputat Press. 2000, Hal. 87.
[10][10]Ahmad tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Cet ke delapan, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2004, Hal. 9.
[11][11]Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, edisi revisi, Jakarta, Al-Husna Zikra, 2000, Hal. 350.
[12][12]Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Alih bahasa Hasan Langgulung, cet. pertama. Jakarta, Bulan Bintang, 1979, Hal. 553.
[13][13]Nazarudin Rahman. Op.Cit. hal. 163.
[14][14]Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, cet ketiga, Jakarta, Kalam Mulia, 2001, Hal. 3.
[15][15]Diambil dari Q.S. Al-Baqarah : 31, artinya : dan Allah mengajarkan kepada Adam segala nama, kemudian ia berkata kepada malaikat : beritahulah aku nama-nama semua itu jika kamu benar.
[16][16]Hadis nabi, artinya : Allah mendidikku, maka Dia memberikan kapadaku sebaik-baik pendidikan.
[17][17]Q.S Bani Israil : 24, artinya : Wahai tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka mendidikkusewaktu kecil.
[18][18]Hasan Langgulung,  Op. Cit., Hal. 3.
[19][19]Ramayulis, Op. Cit. Hal. 4.
[20][20]Nazarudin Rahman, Op.Cit. Hal. 12.
[21][21]Ibid, hal. 17.
[22][22]M. Arifin, Op Cit. Hal.  198.
[23][23]Nazarudin Rahman, Op.Cit. hal. 165.
[24][24]Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Op. Cit., Hal. 595-627.
[25][25]Abdurrahman Mas’ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik ; Humanisme Raligius sebagai Paradigma Pendidikan Islam, Yogyakarta, Gama Media, 2002, hal. 202.
[26][26]Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik ; dalam interaksi edukatif, Cet. pertama, Jakarta. Rineka Cipta, 2000, hal. 184.
[27][27]Ahmad tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Cet kedelapan. Bandung, Remaja Rosdakarya, 2004, Hal.10.
[28][28]Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Op. Cit Hal.585.
[29][29][29][29]Abu Tauhied, Op. Cit. Hal. 73.
[30][30]Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan berdasarkan Al-Qur’an, cet. kedua, Jakarta, Rineka Cipta, 1994, hal. 197-231.
[31][31]Ramayulis, Op Cit, hal. 108-109.
[32][32]Nazarudin Rahman, Op.Cit. Hal. 165-174.
[33][33]Ramayulis, Op. Cit., Hal. 111-114.